Memahami ciri-ciri telur ayam yang mati sangat penting bagi para peternak. Hal ini bukan hanya membantu mengoptimalkan proses inkubasi, tetapi juga menjaga kesehatan seluruh telur yang lainnya.
Banyak peternak mengalami kesulitan mengenali telur-telur yang tidak layak hatching. Dengan mengetahui cara dan waktu yang tepat untuk mengecek, peternak bisa mengambil langkah yang diperlukan untuk meningkatkan hasil peternakan mereka.
Mendorong pertumbuhan dan ketahanan telur yang sehat tidak hanya bergantung pada proses penetasan yang cermat. Pengetahuan mengenai kondisi telur juga menjadi elemen penting dalam keberhasilan peternakan ayam.
Pent-ingnya Mengecek Ciri-Ciri Telur Mati di Masa Inkubasi
Pada hari ke-7 dan ke-14 masa inkubasi, melakukan pemeriksaan atau candling sangat dianjurkan. Pada hari ke-7, peternak dapat mendeteksi apakah ada telur yang infertil atau mengalami kematian dini.
Proses candling ini membantu mengidentifikasi telur yang tidak memiliki perkembangan embrio. Setelah itu, pada hari ke-14, penting untuk memastikan embrio yang ada dalam telur tumbuh dengan baik dan tidak berada dalam fase kritis sebelum penetasan.
Jika telur mati teridentifikasi sejak dini, langkah penanganan dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan inkubator. Hal ini juga akan mencegah terjadinya kontaminasi pada telur-telur yang lain, sehingga meningkatkan kemungkinan keberhasilan penetasan.
Perbedaan Antara Telur Infertil dan Telur Mati
Telur infertil adalah telur yang tidak pernah dibuahi, sehingga tidak mengandung embrio di dalamnya. Ketika dilakukan candling, telur infertil tampak transparan dan tidak memiliki struktur yang menunjukkan adanya kehidupan.
Di sisi lain, telur mati atau dikenal sebagai “quitters” adalah telur yang awalnya fertil tetapi mengalami kematian setelah beberapa waktu. Ciri-cirinya bisa berupa darah yang terbentuk di dalam telur atau tidak adanya perkembangan vaskular lebih lanjut.
Mengidentifikasi perbedaan ini penting bagi peternak untuk melakukan langkah-langkah yang tepat. Dengan mengetahui mana yang infertil dan mana yang telah mati, tindakan pencegahan yang lebih efektif bisa diterapkan pada inkubator.
Indikasi Telur yang Mengapung dan Keberhasilannya Saat Penetasan
Saat melakukan pemeriksaan, telur yang mengapung di air biasanya adalah indikator kematian embrio. Fenomena ini terjadi akibat adanya gas hasil pembusukan di dalam telur, yang mengakibatkan daya apung yang tinggi.
Namun, meskipun telur mengapung mengindikasikan kemungkinan kematian, tidak selalu itu menjadi patokan yang pasti. Menggunakan metode candling adalah cara yang lebih akurat untuk memastikan keadaan telur.
Mengingat berbagai faktor yang dapat memengaruhi perkembangan embrio, konfirmasi tambahan melalui candling sangat disarankan untuk menentukan apakah telur tersebut benar-benar mati. Dengan cara ini, peternak bisa mengambil keputusan yang lebih informasional.
Prosedur Membedakan Embrio Hidup dan Mati Saat Candling
Selama proses candling, ada beberapa tanda yang bisa dilihat untuk mengidentifikasi apakah embrio dalam telur itu hidup atau mati. Embrio yang hidup akan menunjukkan adanya pembuluh darah yang aktif serta gerakan yang nyata di dalam telur.
Pengamatan denyut jantung pada emberio juga signifikatif, terutama jika dilihat dari area dada. Sebaliknya, embrio yang mati akan menunjukkan kondisi statis dan tidak ada gerakan sama sekali ketika telur digoyang.
Jika terlihat massa gelap tanpa aktivitas, itu dapat menjadi indikasi kematian embrio. Memahami hal ini sangat bermanfaat bagi peternak untuk mengambil keputusan saat mencetak hasil yang optimal.
Langkah yang Perlu diambil Jika Telur Dipastikan Mati
Apabila telur sudah dipastikan mati, tindakan cepat diperlukan untuk mencegah risiko kontaminasi. Telur yang sudah mati harus dikeluarkan dari inkubator sesegera mungkin.
Penting untuk tidak membuka telur mati di area penetasan karena dapat menimbulkan bau yang menyengat dan menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri. Pembuangan telur tersebut sebaiknya dilakukan dengan cara dikubur atau dibuang jauh dari area peternakan.
Tindakan cepat ini tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga kesehatan telur-telur lainnya yang sedang dalam proses inkubasi. Dengan penanganan yang tepat, peternak dapat meminimalkan risiko yang timbul akibat telur mati yang tertinggal dalam inkubator.




