Arsul Sani, seorang Hakim Mahkamah Konstitusi, baru-baru ini mengatasi kontroversi di sekitarnya dengan mengungkapkan riwayat pendidikannya. Ia berupaya menegaskan keaslian ijazah doktoralnya yang sempat dipertanyakan publik.
Dengan keyakinan yang kuat, Arsul mempresentasikan dokumen pendukung di hadapan wartawan, membuktikan bahwa tidak ada yang salah dengan latar belakang akademiknya. Pembelaan ini sangat penting dalam menepis anggapan negatif tentang kredibilitasnya.
Pendidikan Terkini dan Latar Belakang Akademis
Arsul Sani meraih gelar dokter dari Collegium Humanum/Warsaw Management University pada tahun 2022. Proses ini merupakan hasil dari perjalanan akademis yang panjang dan penuh tantangan, di mana ia berupaya menyeimbangkan antara karier politik dan pendidikan.
Pada tahun 2012, Arsul memulai studi di Glasgow Caledonian University dalam program Justice and Policy. Ia berhasil menyelesaikan tahap pertama dengan total 180 kredit dari tiga mata kuliah yang berfokus pada pengembangan profesional, metodologi penelitian, dan pengembangan proyek.
Namun, pada tahun 2013, ia harus menangguhkan studinya karena kesibukan sebagai anggota DPR RI. Penundaan ini berlangsung hingga tahun 2017, ketika ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari program doktoral di Glasgow setelah berhasil menyelesaikan semua kredit yang dibutuhkan.
Langkah Selanjutnya dalam Pendidikan Doktoral
Tidak menyerah pada ambisinya, Arsul Sani kemudian memilih untuk melanjutkan pendidikan doktoralnya dengan mendaftar di Collegium Humanum/Warsaw Management University pada tahun 2020. Langkah ini merupakan keputusan strategis, di mana universitas baru ini mengakui semua kredit yang telah ia peroleh sebelumnya.
Disertasi yang ditulisnya berjudul “Re-examining the Considerations of National Security Interest and Human Rights Protection in Counter Terrorism Legal Policy.” Dalam penelitian ini, Arsul mengkaji secara mendalam interaksi antara kepentingan nasional dan perlindungan hak asasi manusia dalam kebijakan hukum terkait terorisme.
Arsul melakukan penelitian ini dengan serius dan menyeluruh, termasuk melakukan wawancara dengan sejumlah kepala lembaga yang menangani isu terorisme. Metodologi penelitian yang robust ini menambah bobot pengkajiannya dan menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap topik tersebut.
Komitmen Terhadap Pendidikan dan Kualitas Penelitian
Komitmen Arsul terhadap pendidikan terlihat jelas dari cara ia menangani jeda dalam studinya. Alih-alih putus asa, ia terus mencari cara untuk menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan pendekatan yang lebih fleksibel saat berada dalam posisi politik.
Kepala lembaga yang diwawancarai juga memberikan wawasan berharga yang nantinya dipakai dalam penelitiannya. Ini menunjukkan bahwa Arsul tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga memperhatikan kebijakan yang berlaku dalam praktek nyata.
Dedikasinya untuk memahami keterkaitan antara hukum, keamanan, dan hak asasi manusia menjadi fondasi bagi pandangannya sebagai seorang hakim. Ini menciptakan prospek baru dalam cara hukum diimplementasikan terkait isu-isu kontemporer.




