Wilayah Kecamatan Tebing Tinggi di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, kini tengah menghadapi situasi darurat akibat banjir bandang yang melanda pada 27 Desember lalu. Dampaknya sangat terasa, dengan banyak aktivitas warga yang terhenti dan kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan berat yang harus dihadapi oleh penduduk setempat.
Salah satu warga, Novi, mengungkapkan bahwa kebun-kebun milik warga telah tersapu bersih oleh banjir, mengakibatkan kerugian besar, terutama pada hasil pertanian seperti padi. Pada saat ini, perhatian utama warga adalah membersihkan rumah mereka tanpa ada aktivitas berkebun yang bisa dijadikan sumber penghasilan.
Di tengah kesulitan yang dihadapi, harapan bagi para warga terletak pada bantuan dari pemerintah dan relawan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan vital sehari-hari. Situasi ini semakin sulit bagi mereka yang biasanya menggantungkan hidup dari pekerjaan harian.
Kondisi Terkini dan Upaya Penanganan Banjir di Balangan
Banjir bandang ini telah menyebabkan status tanggap darurat ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Balangan hingga 3 Januari 2026. Bupati Balangan, Abdul Hadi, menegaskan bahwa penanganan pasca-banjir dilakukan secara terpadu, dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, dan relawan.
Fokus utama sekarang adalah membersihkan lumpur dan sisa-sisa material banjir agar rumah dan fasilitas umum bisa digunakan kembali. Ini menjadi langkah penting untuk memulihkan normalitas dalam kehidupan warga pasca bencana.
Menurut laporan dari kepolisian setempat, sebanyak 1.466 rumah dan 1.615 kepala keluarga mengalami dampak dari bencana ini, dengan delapan desa di Kecamatan Tebing Tinggi yang terkena dampaknya. Penanganan darurat harus dilakukan agar situasi dapat segera pulih.
Desa-Desa yang Terkena Dampak dan Kerugian yang Dialami
Kapolres Balangan, AKBP Yulianor Abdi, merinci bahwa desa yang terdampak antara lain Desa Mayanau, Tebing Tinggi, dan Simpang Bumbuan. Di Desa Mayanau saja, ada 171 rumah yang terdampak dengan kerusakan yang bervariasi dari berat hingga sedang.
Di Desa Tebing Tinggi, tercatat 277 rumah yang telah terendam, dan beberapa fasilitas umum seperti musala dan kantor desa juga mengalami kerusakan. Hal serupa juga terjadi di desa lainnya, di mana banyak rumah tak layak huni akibat banjir ini.
Kondisi di Desa Sungsum cukup parah dengan total 205 rumah terdampak. Beberapa fasilitas umum, termasuk masjid, juga tidak dapat berfungsi akibat banjir. Kejadian ini memerlukan perhatian segera dari pihak berwenang untuk memastikan kebutuhan mendasar warga dapat terpenuhi.
Harapan dan Dukungan bagi Korban Banjir
Meskipun kondisi saat ini sangat memprihatinkan, harapan bagi warga setempat tetap ada. Dukungan dari pemerintah setempat dan relawan sangat diharapkan untuk membantu meringankan beban yang mereka hadapi. Banyak warga yang saat ini tidak memiliki penghasilan tetap berharap akan adanya solusi yang segera.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat diuji ketahanannya, tetapi solidaritas antar-warga dan dukungan dari luar bisa mengubah segala sesuatunya. Keberanian dan ketekunan menjadi kunci untuk menghadapi masa-masa gelap ini.
Warga diharapkan dapat kembali ke kegiatan sehari-hari mereka secepat mungkin, dan penanganan banjir ini menjadi prioritas. Di saat yang sama, masih ada harapan bahwa pemulihan yang cepat bisa dilakukan sehingga warga bisa kembali menata kehidupan mereka seperti biasa.




