Warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Muaro Pisang, Jorong Pasar Maninjau, di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kini merasa tertekan dengan ancaman banjir bandang. Ketakutan yang menyelimuti mereka semakin besar seiring dengan seringnya terjadi hujan dan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Salah seorang warga, Wita, mengungkapkan bahwa rasa takut ini mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. “Sejak banjir bandang melanda, kami hampir setiap malam tidak bisa tidur,” ujarnya, mencerminkan keresahan yang menghinggapi banyak warga lainnya.
Suara gemuruh dari hulu sungai kerap terdengar, menambah ketidaknyamanan bagi penduduk setempat. Tanah longsor di jalan Kelok 25 membuat situasi semakin kritis, sehingga banyak warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Keadaan Darurat akibat Banjir Bandang di Maninjau
Situasi darurat ini telah memaksa warga untuk meninggalkan rumah mereka. Jumlah kepala keluarga yang mengungsi di musala dan rumah warga lain meningkat pesat, mencapai 44 kepala keluarga dengan ratusan orang mengungsi. Mereka berharap bisa segera kembali ke rumah jika situasi membaik.
Wita menceritakan, “Kami sudah tujuh hari mengungsi di musala, takut jika hujan turun lagi.” Pengalaman ini telah memperlihatkan betapa pentingnya penanganan yang tepat untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Menurut anggota DPRD Agam, Albert, luapan air sungai menjadi masalah serius. “Ini jelas berdampak pada rumah warga, sehingga banyak yang sudah mengungsi,” ucapnya. Dia menekankan perlunya kajian ilmiah untuk memahami kondisi tanah di hulu sungai dan menanggulangi masalah ini secara efektif.
Usaha Penanganan dari Pemerintah dan Masyarakat
Bupati Agam, Benni Warlis, juga menggarisbawahi pentingnya penanganan teknis yang berbasis ilmu pengetahuan. Ia meminta pemerintah provinsi dan lembaga terkait untuk turun tangan mengevaluasi kondisi di lapangan. “Kita butuh tindakan konkret untuk melindungi warga,” tegasnya.
Upaya teknis ini termasuk melihat secara keseluruhan dari hulu sampai hilir Sungai Muaro Pisang, agar material tanah tidak terus mengalir ke bawah dan memperparah banjir. Ini adalah langkah yang sangat penting agar masyarakat dapat merasa aman kembali.
Dari sisi masyarakat, ada harapan bahwa pengambil kebijakan dapat segera merespon. Albert mengajak semua pihak untuk bersama-sama mencari solusi agar warga dapat hidup nyaman dan aman di sekitar aliran sungai tersebut.
Dampak Jangka Panjang dan Solusi yang Diperlukan
Banjir bandang bukan hanya masalah darurat, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang. Ketidakpastian dalam cuaca bisa menyebabkan kerugian lebih besar bagi warga yang menggantungkan hidup di daerah tersebut. “Kami butuh perhatian serius dari pemerintah,” begas Albert.
Pemerintah juga perlu melakukan pengawasan dan monitoring secara berkelanjutan agar permasalahan ini tidak terus berlanjut. Dengan penanganan yang tepat, situasi ini adalah hal yang bisa diatasi, dan keamanan warga bisa terjamin kembali.
Keberadaan pesawahan dan kebun warga yang terganggu juga harus dipertimbangkan dalam penanganan masalah ini. Jika tidak diperhatikan, potensi gangguan terhadap mata pencaharian mereka semakin besar, sehingga solusi jangka panjang menjadi sangat dibutuhkan.




