Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah memutuskan untuk memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga akhir Januari 2026. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap peringatan yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengenai potensi cuaca ekstrem dalam beberapa bulan mendatang.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa perpanjangan OMC merupakan langkah strategis yang diarahkan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Ia menegaskan pentingnya tindakan cepat dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang dapat menimbulkan bencana.
Sejak dimulainya OMC pada awal tahun ini, telah dilakukan tujuh kali sorti untuk memitigasi dampak negatif dari cuaca ekstrem di wilayah selatan dan barat Jawa Timur. Diharapkan, langkah ini bisa mengurangi intensitas curah hujan dan risiko bencana yang mengancam wilayah tersebut.
Strategi Mitigasi yang Diterapkan oleh BPBD Jawa Timur
Di luar operasi modifikasi cuaca, BPBD Jawa Timur juga berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan berbagai organisasi perangkat daerah. Mereka menjalankan serangkaian langkah mitigasi yang komprehensif untuk menghadapi tantangan cuaca buruk ini.
Salah satu langkah yang diambil adalah normalisasi dan pembersihan sungai di titik-titik rawan banjir. Hal ini bertujuan untuk memastikan aliran air tidak terhambat, sehingga dapat mengurangi risiko banjir yang sering terjadi di daerah tersebut.
Selain itu, kesiapsiagaan personel dan peralatan selalu menjadi prioritas. Pelatihan serta peningkatan kapasitas masyarakat pun diadakan agar warga siap menghadapi segala kemungkinan yang timbul akibat cuaca ekstrem.
Statistik Bencana Hidrometeorologi di Jawa Timur
Sepanjang tahun 2025, Jawa Timur mengalami 531 kejadian bencana, dengan mayoritas di antaranya disebabkan oleh cuaca ekstrem. Bencana hidrometeorologi seperti banjir dan angin kencang mendominasi jumlah kejadian yang tercatat, dengan masing-masing 149 dan 147 insiden.
Tanah longsor juga menjadi salah satu jenis bencana yang signifikan, dengan 21 kejadian dilaporkan. Situasi ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan respons cepat dari pemerintah dan masyarakat.
Ketidakstabilan cuaca di wilayah ini disinyalir akibat berubahnya pola cuaca yang berlangsung pada beberapa bulan terakhir. Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan terus diupayakan untuk menekan risiko bencana lebih lanjut.
Prediksi Cuaca dari BMKG untuk Bulan-Bulan Mendatang
BMKG Juanda memprediksi bahwa kondisi cuaca ekstrem di Jawa Timur akan berlanjut hingga Februari 2026. Mereka menyatakan bahwa puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada bulan Januari dengan curah hujan yang mencapai 58 persen.
Pada bulan berikutnya, curah hujan diprediksi akan menurun menjadi sekitar 22 persen. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan memperhatikan informasi cuaca terbaru untuk mencegah terjadinya bencana.
Imbauan untuk melakukan langkah-langkah mitigasi di tingkat daerah juga disampaikan oleh BMKG. Dengan begitu, semua pihak dapat berkolaborasi untuk meminimalisir dampak negatif dari cuaca ekstrem yang menghantui Jawa Timur.
Pengaruh Faktor Global terhadap Cuaca di Jawa Timur
Aktivitas Monsun Asia, bersama dengan gangguan gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), turut mempengaruhi kondisi cuaca di Jawa Timur. Hal ini menambah kompleksitas dalam memprediksi pola cuaca yang akan terjadi.
Selain faktor global tersebut, kondisi lokal juga berperan besar dalam pembentukan cuaca ekstrem. Suhu muka laut yang cukup tinggi di perairan Selat Madura memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan awan konvektif yang masif.
Kondisi atmosfer yang labil sangat mempengaruhi dampak dari cuaca ekstrem, sehingga tantangan bagi semua pihak untuk bagaimana menghadapinya dengan lebih baik. Kesadaran dan tindakan preventif menjadi kunci dalam menghadapi ancaman ini.




