Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan pentingnya peninjauan ulang terhadap kebijakan modifikasi cuaca yang diusulkan untuk mengatasi hujan ekstrem dan banjir di Jakarta. Menurut BRIN, pendekatan ini mungkin tidak seefektif yang diharapkan dan berpotensi menimbulkan lebih banyak problema daripada solusi.
Prof. Dr. Ir. Eddy Hermawan, seorang peneliti ahli dari BRIN, menekankan bahwa penelitian lebih mendalam diperlukan sebelum kebijakan ini diterapkan. Ia menunjukkan bahwa saat ini ada ketidakpastian dalam pelaksanaan modifikasi cuaca, sehingga hasil yang diinginkan sulit dicapai.
Menurutnya, sejak awal, konsep modifikasi cuaca harus didasarkan pada kajian ilmiah yang komprehensif, memperhitungkan berbagai variabel alam yang ada. Pendekatan sembarangan hanya akan mengakibatkan dampak yang tidak dapat diprediksi, merugikan rakyat dan lingkungan.
Persoalan Kebijakan Modifikasi Cuaca di Jakarta
Eddy menyatakan bahwa pemerintah tampaknya tetap bersikukuh terhadap penerapan modifikasi cuaca meskipun banyak kritik yang mengemuka. Sikap ini menunjukkan keinginan untuk mencari solusi cepat, namun tanpa dasar yang kuat secara ilmiah.
Mempertimbangkan kompleksitas iklim Jakarta, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor lokal maupun global, sangat krusial untuk melakukan evaluasi yang lebih mendalam. Tanpa memahami cara kerja sistem iklim, tindakan modifikasi cuaca berisiko gagal total.
Kebijakan yang kurang mendasar ini berpotensi memperburuk masalah. Misalnya, ketika intervensi dilakukan pada saat yang salah, hasil yang diperoleh dapat menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas metode tersebut. Oleh karena itu, peninjauan ulang adalah langkah vital.
Risiko dan Manfaat dari Modifikasi Cuaca
Salah satu risiko utama dari modifikasi cuaca adalah kesulitan dalam membedakan antara dampak intervensi dan fenomena alam alami. Hal ini sering menimbulkan kebingungan di masyarakat dan pemerintah mengenai penyebab utama dari banjir atau perubahan cuaca ekstrem.
Banyak negara di Asia Tenggara mulai meragukan manfaat modifikasi cuaca. Dalam beberapa kasus, biaya dan potensi risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar dibandingkan dengan manfaat yang bisa diperoleh dari tindakan tersebut.
Dokumentasi dan analisis dari pengalaman negara-negara lain dapat menjadi referensi berharga bagi pemerintah DKI Jakarta. Ini mencakup studi kasus di mana modifikasi cuaca gagal menghasilkan dampak positif yang diinginkan dan justru membuka peluang untuk serangkaian masalah baru.
Pentingnya Pendekatan Berbasis Ilmu untuk Kebijakan Cuaca
Penting untuk merangkul pendekatan berbasis ilmu dalam merancang kebijakan modifikasi cuaca. Data yang akurat dan model iklim yang baik akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pilihan yang ada dan potensi hasil yang ingin dicapai.
Melibatkan para ahli dari berbagai disiplin tentang ilmu cuaca dan iklim tidak hanya akan memberikan wawasan tambahan tetapi juga meningkatkan kredibilitas kebijakan. Dengan demikian, keputusan yang diambil dapat lebih terukur dan efektivitasnya dapat dievaluasi secara berkala.
Diharapkan ke depannya, pemangku kebijakan dapat lebih terbuka terhadap pandangan kritis dan penilaian dari ilmuwan. Penelitian yang berdasar pada data dan metodologi yang tepat akan meminimalkan risiko kesalahan dan memastikan manfaat maksimal bagi masyarakat.




