Mantan calon gubernur DKI Jakarta, Dharma Pongrekun, menunjukkan sikap positif terhadap penampilannya di dalam materi stand-up comedy yang dibawakan oleh komika terkenal. Dalam pertunjukan itu, namanya disebut bersamaan dengan tokoh-tokoh politik seperti Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
Dharma merasa bangga karena diberi tempat di depan, meskipun ia mengakui ada sisi yang kurang nyaman. Namun, ia berpegang pada prinsip bahwa setiap hal tergantung pada sudut pandang, dan ia memilih untuk melihat situasi ini sebagai sebuah berkah.
“Saya bersyukur karena bisa digabungkan dengan tokoh besar lainnya,” ujarnya. Ia tidak merasakan keberatan atau kecanggungan, meski mungkin ada berbagai reaksi dari para pendukungnya di Pilkada DKI Jakarta.
Tanggapan Dharma terhadap Materi Stand-Up Comedy
Dharma menegaskan bahwa ia tidak merasa tersinggung dan malah ingin mengajak Pandji untuk berdiskusi lebih dalam mengenai berbagai isu, termasuk pandangannya terkait Covid-19. Pertunjukan Pandji memang menyinggung sudut pandangnya mengenai pandemi, suatu topik yang dianggap sangat penting oleh Dharma.
“Saya punya banyak data dan dokumen yang mendukung pandangan saya,” ungkapnya. Menurutnya, informasi yang ia miliki menunjukkan bahwa Covid-19 merupakan bagian dari sistem vaksinasi digital yang lebih kompleks dan dikendalikan banyak faktor.
Dharma menekankan bahwa ia tidak merasa takut menghadapi virus tersebut. Ia percaya, dengan pengetahuan dan pemahaman yang tepat, banyak orang dapat melihat situasi dari perspektif yang lebih luas.
Pandangan Dharma tentang Isu Covid-19 dan AI
Saat berbicara mengenai Covid-19, Dharma merinci beberapa alasannya untuk tidak khawatir, termasuk peran kecerdasan buatan atau AI dalam penanganan pandemi. “Saat ini semua teknologi yang terlibat dalam penanganan Covid-19, seperti drone dan kamera pengawas, dikendalikan oleh AI,” jelasnya.
Menurutnya, ada banyak informasi yang dapat diakses terkait bagaimana pandemi ini dikelola, dan ia yakin bahwa pemahaman itu penting untuk dimiliki masyarakat. Ia merasa bahwa perdebatan mengenai Covid-19 terlalu sering dibingkai secara sepihak tanpa mempertimbangkan data yang ada.
Pandji, dalam pertunjukannya, juga mencatat hasil pemilihan suara Dharma, yang sebelumnya mendapatkan 10,6 persen di Pilkada DKI. Tanggapan dari para pendukungnya menunjukkan adanya kekhawatiran di kalangan mereka yang merasa disudutkan.
Respon Terhadap Komentar dan Isu Suara di Pilkada
Dharma mengingatkan bahwa di balik setiap statistik dan hasil pemilih ada cerita yang lebih dalam. Beberapa pendukung melihat hasil tersebut sebagai cerminan dari pandangan mereka, dan mungkin merasa seperti dihakimi akibat pilihan yang diberikan.
“Mereka yang merasa terdiskriminasi adalah yang merasa waras dan tidak menerima hasil tersebut,” ucapnya. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya dinamika politik, terutama ketika berbicara tentang perasaan individu dalam konteks pemilihan umum.
Dharma percaya bahwa semua orang berhak memiliki pandangan dan pendapat masing-masing. Ia mengapresiasi keberanian Pandji untuk mengangkat tema ini dalam bentuk komedi, namun menyatakan bahwa dialog yang lebih mendalam juga sangat dibutuhkan.
Potensi Kolaborasi dan Diskusi Kritis di Masa Depan
Dharma menyatakan keinginannya untuk berkolaborasi dengan Pandji dalam diskusi lebih lanjut tentang tema-tema kritis. Ia percaya, dengan berdialog, banyak informasi dan fakta bisa diperoleh yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.
“Saya ingin menjelaskan kepada Pandji dan pendengar tentang pandangan saya, terutama yang berkaitan dengan Covid-19,” katanya. Keyakinan Dharma untuk berbagi pengetahuan dan informasi mendasarkan diri pada keselamatan dan pemahaman masyarakat yang lebih baik.
Sikap terbuka Dharma kepada pandangan, bahkan yang kritis, mencerminkan karakter kepemimpinannya. Ia yakin, melalui komunikasi yang baik, banyak kesalahpahaman bisa diminimalisir.




