Kegiatan bedah buku Reset Indonesia yang diproduksi oleh sejumlah jurnalis senior baru-baru ini mendapatkan perhatian besar setelah terjadi pembubaran oleh aparat di Madiun, Jawa Tengah. Namun, suasana yang berbeda terjadi di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, di mana perangkat daerah hingga bupati ikut berpartisipasi dalam diskusi yang digelar di hutan kota tersebut.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, atau yang akrab disapa Mas Ipin, hadir dan memberikan sambutan di acara tersebut. Kegiatan ini juga dihadiri oleh ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek yang mengikuti bedah buku di Amphitheater Hutan Kota.
Mas Ipin menjelaskan bahwa tujuan utama mengajak ASN untuk mengikuti bedah buku adalah agar mereka dapat mengkritisi diri sendiri dan membuka cakrawala berpikir. Hal ini dinilai penting agar pemerintah daerah terus berbenah menuju arah yang lebih baik.
Pentingnya Diskusi Berbasis Buku untuk ASN Trenggalek
Dalam kegiatan ini, Mas Ipin menekankan bahwa untuk melihat Indonesia yang lebih baik, perubahan harus dimulai dari individu itu sendiri. ASN, sebagai bagian dari ekosistem pemerintahan, memiliki tanggung jawab besar dalam membawa perubahan di Kabupaten Trenggalek.
Mas Ipin berpendapat bahwa dengan mengajak ASN untuk berani mengkritisi diri, diharapkan bakal tercipta iklim pemerintahan yang lebih responsif dan adaptif. Setiap individu di pemerintahan diharapkan bisa mengambil inspirasi dari ide-ide yang terkandung dalam buku tersebut.
Buku Reset Indonesia merupakan hasil kolaborasi empat jurnalis yang mengupas beragam persoalan struktural di Indonesia. Buku ini menawarkan solusi berbasis riset lapangan serta ekspedisi jurnalistik selama 15 tahun, dengan fokus pada isu agraria, lingkungan, dan kebijakan publik.
Pemahaman Konsep Ekonomi dan Ekologi dalam Pembangunan
Mas Ipin menjelaskan bahwa dari semua gagasan dalam buku tersebut, ia sangat setuju dengan konsep keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Pendekatan ini, menurutnya, sejalan dengan arah pembangunan yang terus diupayakan di Kabupaten Trenggalek.
Ia menekankan bahwa ekonomi harus tumbuh dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Prinsip ini diharapkan bisa menjadi dasar dalam setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah daerah.
Lebih jauh, Mas Ipin menegaskan pentingnya membangun logika kapital yang berpijak pada kapasitas fiskal dan struktur ekonomi kerakyatan. Sejalan dengan itu, ia berharap agar setiap kebijakan dijalankan dengan pendekatan yang ramah lingkungan dan berlandaskan keadilan sosial.
Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Keseimbangan
Salah satu contohnya adalah dalam pengelolaan air bersih. Mas Ipin menilai pelayanan prima kepada masyarakat tidak bisa dipisahkan dari kesehatan finansial daerah. Oleh karena itu, Pemkab Trenggalek sedang mencari sumber pendapatan alternatif, termasuk melalui usaha air minum dalam kemasan.
Dia menjelaskan bahwa keuntungan dari usaha tersebut akan diinvestasikan kembali untuk memperluas pelayanan air bersih kepada masyarakat. Hal ini bertujuan agar kebutuhan air untuk industri dan kepentingan bisnis dapat terlayani dengan baik.
Selain itu, terkait isu lingkungan, Mas Ipin membantah anggapan bahwa Kabupaten Trenggalek menerapkan kebijakan zero penebangan. Ia menjelaskan bahwa masih terdapat hutan produksi kayu yang dikelola secara bijaksana, sehingga bisa tetap menjaga ekosistem hutan.
Protes terhadap Pembubaran Diskusi dan Pentingnya Kritik Diri
Mas Ipin juga menegaskan pentingnya kegiatan bedah buku ini untuk terus digalakkan. Ia percaya bahwa perkembangan suatu daerah sangat ditentukan oleh upaya mengkritik dan mengoreksi diri. Kegiatan semacam ini bukan hanya untuk ASN, tetapi juga semua elemen masyarakat.
Menurutnya, orang yang tidak mau maju adalah mereka yang gagal dalam upaya kritik diri. Sebuah masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang terus mencari alternatif yang lebih adil untuk semuanya, baik untuk rakyat maupun untuk generasi mendatang.
Akan tetapi, Mas Ipin ingin menegaskan bahwa ia tidak sepenuhnya sepakat dengan setiap gagasan yang disampaikan dalam buku tersebut. Ia menganggap bahwa ada beberapa aspek, seperti pemanfaatan air, yang masih perlu dibahas lebih lanjut dengan pendekatan keberlanjutan fiskal.




