Dua kelompok yang mengklaim sebagai pemegang hak takhta Keraton Solo terlibat dalam pertemuan tatap muka yang berlangsung di ruang rapat Balai Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada siang hari. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Paku Buwono XIV Mangkubumi dan diwakili oleh dua kakak dari Paku Buwono XIV Purbaya, yaitu GKR Panembahan Timoer Rumbay dan GK Devi Lelyana Dewi.
Keduanya terlihat duduk berhadap-hadapan di ruang rapat Natapraja Balai Kota Solo, dan pertemuan itu berlangsung secara tertutup. Acara ini pun menarik perhatian publik yang ingin mengetahui perkembangan terkait dualisme kepemimpinan di Keraton Solo.
Sebagian pihak tidak melihat kehadiran Wali Kota Solo, Respati Ardi, yang tidak hadir dalam acara tersebut. Namun, beberapa perwakilan dari pemerintah, termasuk Sekretaris Daerah Kota Solo Budi Murtono dan Kapolresta Solo Kombes Pol Catur Cahyo Wibowo, turut hadir untuk memantau jalannya pertemuan yang bersejarah ini.
Proses Pertemuan Tertutup Antara Dua Kubu
Setelah pertemuan dimulai, suasana terlihat tegang meski kedua pihak berusaha menjaga diskusi tetap berkualitas. GKR Rumbay menjelaskan kepada awak media bahwa pertemuan tersebut sebenarnya membahas rencana peresmian Panggung Songgobuwono dan Museum Keraton Solo yang akan dilakukan keesokan harinya.
“Kami berkumpul untuk membahas segala persiapan terkait peresmian yang akan berlangsung. Rencananya, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, akan hadir untuk meresmikan acara tersebut,” ungkap GKR Rumbay usai pertemuan.
Rumbay menambahkan bahwa keberadaan Paku Buwono XIV Purbaya masih belum bisa dipastikan untuk hadir dalam acara peresmian tersebut. Hal ini tentunya menambah ketegangan mengenai siapa yang sebenarnya berhak mengklaim kekuasaan dalam keraton yang kaya akan sejarah ini.
Rencana Peresmian Panggung Songgobuwono dan Museum
Lebih lanjut, Mangkubumi menyatakan bahwa diskusi tersebut fokus pada persiapan peresmian Panggung Songgobuwono dan tahapan awal museum. Ia menjelaskan bahwa semua penataan sudah dilakukan dan siap untuk dipresentasikan kepada publik.
“Kami ingin memastikan bahwa semua berjalan lancar dan terkoordinasi dengan baik. Penataan yang sudah selesai ini adalah bagian dari upaya untuk mengangkat citra Keraton Solo,” ungkap Mangkubumi.
Pergantian otoritas yang terjadi dalam tubuh Keraton Solo setelah kematian Paku Buwono XIII menjadi sorotan, dan pertemuan ini menjadi titik penting dalam menentukan bagaimana masa depan Keraton ke depannya.
Penyebab Dualisme di Keraton Solo
Drama dualisme kepemimpinan di Keraton Solo dimulai setelah meninggalnya Paku Buwono XIII. Dua putra dari almarhum tersebut, KGPH Purbaya dan KGPH Mangkubumi, mengklaim diri sebagai raja baru dengan gelar yang sama, yaitu Paku Buwono XIV.
Pengukuhan Purbaya sebagai Paku Buwono XIV dilakukan menjelang pemakaman, sementara Mangkubumi melakukan hal serupa seminggu setelahnya dengan disaksikan oleh anggota keluarga lainnya. Ketegangan ini menarik perhatian banyak kalangan, termasuk pengamat budaya dan masyarakat luas.
Untuk meredakan situasi ini, berbagai inisiatif, termasuk dialog yang berlangsung di Balai Kota, diharapkan dapat membantu mendorong penyelesaian yang lebih damai dan saling menguntungkan bagi kedua pihak yang terlibat.
Arah Masa Depan Keraton Solo
Masyarakat kini menunggu dengan penuh harapan terkait penyelesaian permasalahan ini dan bagaimana hal tersebut akan memengaruhi tradisi serta budaya Keraton Solo. Acara peresmian yang akan datang diharapkan bisa menjadi langkah awal menuju rekonsiliasi.
Upaya untuk memperkuat brand Keraton Solo di mata masyarakat pun semakin penting. Dengan adanya penguatan daya tarik wisata dan budaya, kedua kubu diharapkan dapat menemukan sinergi demi kebaikan lembaga keraton
Kesepakatan dan kerjasama antara kedua kubu akan membawa nuansa baru bagi Keraton Solo. Jika berhasil, hal ini tentu akan memberi dampak positif bagi perkembangan kedua belah pihak serta meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung.




