Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Indonesia sedang merancang implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak. Upaya ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memenuhi kebutuhan perlindungan anak di era digital yang semakin maju.
Regulasi ini bertujuan untuk menjaga anak-anak dari risiko yang dihadapi saat menggunakan platform digital. Beberapa komponen penting dalam regulasi ini meliputi verifikasi usia, pengawasan aktivitas media sosial, serta peningkatan peran orang tua dan pendamping dalam penggunaan teknologi.
Dari pengalaman Australia, Indonesia bisa belajar agar tidak terjebak dalam pendekatan larangan total yang seringkali dapat dimanipulasi. Kebijakan yang efektif harus mampu menargetkan fundamental masalah digital, seperti desain platform dan perlindungan data pengguna.
Pentingnya Kebijakan yang Mengedepankan Perlindungan Anak
Pengaturan yang tegas dan efektif sangat diperlukan untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif dunia digital. Tanpa adanya regulasi yang jelas, anak-anak rentan terhadap penyalahgunaan dan eksploitasi di internet.
Kebijakan yang bersifat larangan tidak menjamin keamanan online anak-anak. Sebaliknya, pendekatan yang lebih konstruktif dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi mereka.
Oleh karena itu, perubahan kebijakan harus diiringi dengan edukasi yang tepat untuk anak-anak dan orang tua. Peningkatan literasi digital merupakan elemen penting dalam menghadapi risiko yang ada di dunia maya.
Kelemahan Larangan Umur dalam Penggunaan Media Sosial
Larangan berdasarkan umur saja tidak cukup untuk mengurangi risiko yang dihadapi oleh remaja. Ketika platform besar menerapkan pengawasan yang lebih ketat, remaja dapat kehilangan perlindungan di tempat lain yang tidak terpantau.
Desain platform yang aman harus mencakup algoritma yang bertanggung jawab, untuk mengurangi dampak negatif yang dialami anak. Setiap penyelenggara sistem elektronika memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan pengguna, terutama anak-anak.
Melakukan pendekatan secara menyeluruh menjadi langkah awal yang penting. Upaya ini harus didasari pada penelitian dan bukti yang menunjukkan cara terbaik untuk melindungi pengguna muda.
Implementasi PP TUNAS dan Harapannya untuk Masa Depan
Jika PP TUNAS diterapkan dengan konsisten, ini berpotensi menjadi model kebijakan yang melindungi anak. Hal ini memungkinkan generasi muda untuk berkembang dengan aman dalam lingkungan digital tanpa mengorbankan hak dan kesehatan mental mereka.
Regulasi ini diharapkan dapat menciptakan ruang aman yang mendukung pertumbuhan bakat digital anak-anak Indonesia. Dengan dukungan yang tepat, mereka dapat memanfaatkan teknologi untuk kebaikan.
Penting bagi semua stakeholder untuk berkolaborasi dalam mengembangkan kebijakan yang berfokus pada kepentingan anak. Ciptakan lingkungan yang mendorong inovasi dan kreativitas tanpa mengabaikan aspek keamanan dan perlindungan.




