Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kemampuan generasi muda, salah satunya melalui kegiatan Model United Nations (MUN). Peneliti Hubungan Internasional, Calvin Khoe, menilai bahwa MUN merupakan sarana yang sangat efektif untuk memperkenalkan konsep diplomasi kepada siswa di Indonesia.
Menurutnya, jika kegiatan MUN hanya dibatasi pada jenjang perguruan tinggi, maka banyak potensi yang mungkin tidak akan tergali. Oleh sebab itu, mengintegrasikan MUN ke dalam kurikulum di tingkat sekolah menengah atas (SMA) sangatlah penting bagi perkembangan siswa ke depan.
Khoe menjelaskan bahwa masih banyak siswa yang menganggap bahwa MUN adalah kegiatan eksklusif bagi mereka yang memiliki kemampuan bahasa Inggris di atas rata-rata. Ini menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi untuk mendorong lebih banyak partisipasi dalam kegiatan tersebut.
Kurangnya perhatian media juga menjadi penyebab MUN kurang dikenal di kalangan siswa. Calvin berharap lebih banyak media yang meliput acara-acara MUN untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kegiatan ini.
Pentingnya Menanamkan Diplomasi Sejak Dini di Kalangan Siswa
Mengembangkan kemampuan diplomasi melalui MUN di kalangan siswa dapat membuka wawasan mereka terhadap isu-isu global. Dalam MUN, siswa tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga sebagai pengambil keputusan yang memerlukan strategi dan pemikiran kritis.
Khoe menegaskan bahwa MUN dapat membantu siswa mengasah keterampilan berbicara di depan umum, keterampilan analitis, serta penulisan yang terstruktur. Keterampilan ini sangat relevan dalam dunia profesional masa kini, di mana kemampuan komunikasi menjadi kunci utama sukses.
Selain itu, siswa juga belajar tentang proses negosiasi politik yang sangat penting dalam diplomasi. Melalui role-play ini, mereka diajarkan untuk menjadi diplomat yang handal, mampu berargumen, dan mencari solusi atas permasalahan global.
Hambatan yang Di Hadapi dalam Pelaksanaan MUN di Sekolah
Salah satu kendala utama yang dihadapi siswa saat mengikuti MUN adalah tingkat penguasaan bahasa Inggris yang dianggap rendah. Banyak siswa merasa tidak percaya diri jika harus berbicara dalam bahasa tersebut selama simulasi MUN.
Calvin juga menyoroti perlunya dukungan dari pihak sekolah, baik negeri maupun swasta. Sekolah harus menyediakan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa agar mereka dapat berpartisipasi dengan lebih percaya diri.
Sosialisasi dan promosi mengenai MUN juga perlu dilakukan agar lebih banyak siswa yang berminat untuk ikut berpartisipasi. Kegiatan ini tidak hanya terbatas pada siswa yang memiliki latar belakang akademis tinggi tetapi juga harus inklusif untuk semua kalangan.
Peran Sekolah dalam Mendorong Kegiatan Model United Nations
Kesadaran dan dukungan dari pihak sekolah sangat penting untuk mendorong siswa terlibat dalam MUN. Sekolah perlu mengintegrasikan MUN ke dalam program ekstrakurikuler agar siswa dapat belajar dengan metode yang lebih praktis.
Khoe menyarankan supaya penyelenggaraan MUN di sekolah dapat bekerjasama dengan organisasi yang berpengalaman dalam hal ini. Kerjasama semacam ini akan memberi siswa pengalaman yang kaya dan konkret dalam berpartisipasi dalam simulasi diplomasi.
Penting juga untuk mengevaluasi kegiatan MUN yang telah dilaksanakan agar dapat diambil pelajaran untuk penyelenggaraan ke depannya. Dengan demikian, kegiatan MUN akan semakin menarik dan bermanfaat bagi siswa.




