Roy Suryo, seorang pakar telematika yang telah menjadi sorotan publik, kini menghadapi berbagai tuduhan mengenai keaslian ijazah pendidikannya. Tuduhan ini datang dari beberapa pendukung Presiden Joko Widodo, yang mempertanyakan validitas pendidikan Roy dari S1 hingga S3. Dalam menjawab tuduhan tersebut, Roy Suryo memutuskan untuk memperlihatkan semua dokumen akademiknya ke publik.
Dalam sebuah acara yang berlangsung di Polda Metro Jaya, Roy menunjukkan ijazah S1 dan S2 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) serta ijazah S3 dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ia mengungkapkan bahwa dugaan tentang ijazah palsunya telah menyebabkan kerugian bagi reputasinya dan merasa perlu untuk membela diri dengan memberikan bukti pendidikan yang sah.
Setelah terjadi perdebatan, Roy juga melaporkan tujuh orang pendukung Jokowi ke pihak kepolisian. Ia menyebutkan bahwa laporan tersebut telah diterima dengan nomor STTLP/B/114/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. Dia merasa perlu untuk mengambil langkah hukum atas tuduhan yang dinilai mencemarkan nama baiknya.
Langkah Hukum yang Diambil oleh Roy Suryo
Roy Suryo bukan hanya menunjukkan bukti pendidikannya, tetapi ia juga menegaskan bahwa tuduhan terhadapnya tidak berdasar. Ia menyampaikan bahwa timnya telah melakukan penelitian terkait dugaan ijazah palsu Jokowi, dan menemukan kejanggalan. Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa ijazah Jokowi hampir bisa dipastikan palsu, yang mengarah pada tuduhan balik kepada dirinya.
Ia berusaha membalikkan narasi dengan ungkapan bahwa tuduhan tersebut merupakan bentuk smear campaign. Dengan mempublikasikan bukti-bukti pendidikannya, ia berharap dapat mengembalikan kepercayaan publik terhadap dirinya. Roy menyadari bahwa dalam dunia politik, reputasi sangatlah penting dan semua tuduhan dapat berbahaya bagi citra seseorang.
Roy juga mempertanyakan sikap Jokowi dalam menghadapi tuduhan yang sama terhadapnya. Ia mengajak Presiden untuk bersikap lebih terbuka dengan menunjukkan ijazahnya. Hal ini, menurut Roy, akan memberi kejelasan dan menyelesaikan polemik yang ada. Ia percaya bahwa transparansi merupakan kunci dalam dunia pendidikan dan politik.
Riwayat Pendidikan Roy Suryo yang Terlupakan
Roy Suryo memulai pendidikan dasarnya di SD Netral C Yogyakarta, sebelum melanjutkan ke SMP Negeri 5 Yogyakarta dan SMA Negeri 3 Yogyakarta. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah, ia melanjutkan ke universitas ternama, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM). Di sana, ia meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) pada tahun 1991.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Roy melanjutkan karir di dunia pendidikan sebagai pengajar di Jurusan Seni Media Rekam di Institut Seni Indonesia Yogyakarta antara tahun 1994 hingga 2004. Selama periode ini, ia juga sempat menjadi pengajar tamu di Program D-3 Komunikasi UGM.
Tidak hanya mengandalkan gelar sarjana, Roy Suryo kemudian menempuh pendidikan magister ilmu kesehatan masyarakat di FK UGM dan akhirnya menyelesaikan program doktor ilmu manajemen di Universitas Negeri Jakarta. Proses pendidikan ini tidak hanya memberikan Roy pengetahuan akademis yang mendalam, tetapi juga memperkaya pengalaman dalam arena profesional yang lebih kompleks.
Strategi PR dan Tanggapan Publik Terhadap Kasus Roy Suryo
Kasus yang melibatkan Roy Suryo ini menjadi perbincangan hangat di kalangan publik. Berbagai reaksi muncul, mulai dari dukungan hingga skeptisisme terkait keberadaan ijazah yang ditunjukkannya. Strategi komunikasi Roy cukup efektif dalam menarik perhatian media dan publik dengan langkah-langkah nyata yang diambilnya.
Para pendukung Roy memuji keberaniannya dalam menghadapi tuduhan dan dengan terbuka menunjukkan bukti akademiknya. Namun, di sisi lain, sebagian publik merasa skeptis dan menuntut lebih banyak bukti terkait ajakan Roy kepada Jokowi untuk menunjukkan ijazahnya. Diskusi di media sosial pun mengalami eskalasi dengan berbagai pendukung dan penentang yang bereaksi terhadap klaim masing-masing pihak.
Media berperan besar dalam membentuk opini masyarakat mengenai kasus ini. Mereka memberikan sorotan pada latar belakang pendidikan Roy dan kriminalisasi yang mungkin terjadi akibat tuduhan yang tidak berlandaskan fakta. Keberhasilan atau kegagalan Roy dalam kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana reputasi bisa dibangun dan dihancurkan dalam politik.




