jang minimal 800–1000 kata, tanpa menambahkan tag
atau
,
| atau | bisa kamu tambahkan di susunan manapun asal jangan di awal ataupun akhir. Jangan tambahkan atau di awal/akhir, dan hilangkan semua brand dan domain sumber. Gunakan gaya penulisan editorial naratif profesional dan tidak membosankan.
Gunakan susunan berikut ini: susunan pertama (isi paragraf pertama langsung 2 kalimat, minimal 50 kata) tambahkan 2–3 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) susunan kedua (minimal 8 kata)tambahkan 3–5 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) susunan ketiga (minimal 8 kata)tambahkan 3–5 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) susunan keempat (minimal 8 kata)tambahkan 3–5 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) Hilangkan semua yang terkait dengan “liputan6” atau “liputan6.com”. Langsung berikan hasil dalam format HTML bersih tanpa tag , dan jangan tambahkan pembuka atau penutup dari kamu ya:
Liputan6.com, Jakarta – Menjadi orang tua bukan hanya soal memberikan yang terbaik untuk anak. Ada kalanya, keinginan orang tua agar anak berkembang secara optimal justru tanpa disadari berubah menjadi tekanan. Hal tersebut menjadi salah satu proses yang dijalani Cynthia, momfluencer pemilik akun Instagram @Janelleandmom, dalam mendampingi putrinya, Janelle. Cynthia mengaku masih terus belajar menemukan batas antara mendorong anak (pushing) dan memberikan tekanan (pressuring). Menurutnya, kedua hal tersebut terlihat mirip, tapi memiliki perbedaan yang penting dalam pengasuhan. “Ketika kita mau kasih yang terbaik buat anak itu tanpa sadar, kadang-kadang itu tuh menjadi sebuah pressure, itu menjadi sebuah ekspektasi ke anak. Karena kan kita mikirnya ini yang aku kasih ke kamu ini yang terbaik, loh,” kata Cynthia. Menurut Cynthia, orang tua tetap boleh mendorong anak untuk mencoba sesuatu yang dirasa baik bagi perkembangannya. Namun, dorongan tersebut sebaiknya disertai dengan dukungan dan kesediaan orang tua untuk menemani anak dalam prosesnya. “Maksudnya kita bilang, ‘I know it’s hard, tapi aku yakin kamu bisa. Dan aku akan menemani kamu di perjalanan itu’,” ujarnya di acara ‘Growing Little Minds: The Science Behind Every Child’s Potential’ pada Sabtu, 5 September 2026. Sebaliknya, tekanan muncul ketika orang tua memiliki ekspektasi bahwa anak harus berhasil hanya karena orang tua merasa anak mampu melakukannya. “Sedangkan pressuring itu lebih ke, ‘Aku tahu ini susah, tapi aku tahu kamu bisa kok.’ Karena aku expect kamu bisa,” kata Cynthia. Pengalaman Janelle Ikut Les CaturCynthia kemudian memberikan contoh dari pengalaman Janelle. Awalnya, Janelle sendiri yang meminta mengikuti les catur. Cynthia pun mendukung keinginan tersebut. Namun, setelah beberapa kali mengikuti les, Janelle ternyata tidak menyukainya. Cynthia sempat tetap mendorong karena melihat catur sebagai aktivitas yang baik untuk perkembangan kognitif anak. Menurutnya, catur dapat membantu perkembangan kemampuan problem solving, sekaligus mengajarkan anak menghadapi kekalahan dan kemenangan. “Kita push dulu, tapi at one point itu dia becoming toxic gitu, ya. Maksudnya dia juga stressful banget. Exhausted lah kayaknya juga, ya,” ujarnya. Melihat kondisi tersebut, Cynthia dan keluarga kemudian melakukan evaluasi. Setelah mencoba selama sekitar tiga hingga empat bulan, mereka akhirnya memutuskan menghentikan sementara les catur. “Mungkin memang this is not the time for it. Mungkin nanti kita bisa balik lagi les catur. Tapi for the time being, setelah tiga sampai empat bulan kita coba. It doesn’t work. Yaudah, kita stop,” kata Cynthia. Contoh paragraf pertama… Contoh paragraf kedua… Contoh subhead pertama…
Related PostsPOPULAR NEWSEDITOR'S PICKCategories© 2026 Berita Artikel Kesehatan Terkini Hari Ini rs-medikabsd.co.id. © 2026 Berita Artikel Kesehatan Terkini Hari Ini rs-medikabsd.co.id. |
|---|