Pelecehan verbal di grup chat sering kali dianggap sepele dan hanya dianggap candaan belaka. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa hal ini dapat memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan mental seseorang, bahkan ketika disampaikan dalam suasana yang santai atau ramai.
Peneliti dan dokter komunitas, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menyatakan bahwa fenomena ini perlu mendapatkan perhatian lebih. Menurutnya, seringkali orang tidak menyadari bahwa kata-kata yang terdengar lucu dan ringan dapat menyimpan dampak berbahaya.
Masyarakat seringkali terjebak dalam keyakinan bahwa candaan yang merendahkan tidak ada salahnya. Namun, sebenarnya, ejekan dalam grup chat yang tampak biasa ini justru bisa merusak kesehatan mental seseorang dan menghasilkan perasaan negatif yang berkepanjangan.
Mengapa Otak Memproses Candaan Sebagai Ancaman?
Secara ilmiah, otak manusia tidak dapat membedakan sepenuhnya antara candaan yang tidak berbahaya dan ancaman sosial. Ketika seseorang menerima ejekan, reaksi tubuhnya tetap serupa dengan saat menghadapi tekanan lainnya.
Respons biologis ini dapat memicu peningkatan hormon stres dalam tubuh, seperti kortisol, sehingga menyebabkan perasaan cemas dan tidak nyaman. Akibatnya, individu mungkin mengalami rasa malu yang mendalam dan berkepanjangan.
“Otak kita memandang ejekan sebagai ancaman sosial,” ungkap Dr. Ray. “Walau terlihat sepele dan dikemas secara humoris, tubuh tidak dapat membedakannya dan merasakan dampak stres yang sama dengan situasi yang lebih serius.”
Dampak Serius pada Kesehatan Mental Korban
Pelecehan verbal yang sering terjadi di grup chat dapat memicu berbagai gangguan psikologis pada individu. Beberapa dampak yang paling umum termasuk kecemasan berlebih dan penurunan kepercayaan diri.
- Overthinking yang mengganggu setelah membaca percakapan grup.
- Munculnya rasa cemas atau anxiety, bahkan merasa takut untuk membuka grup chat.
- Penurunan kepercayaan diri (self-esteem) yang signifikan.
- Perasaan tidak aman dalam menjalani interaksi sosial sehari-hari.
- Kelelahan emosional atau burnout sosial akibat tekanan yang dirasakan.
Banyak individu memilih untuk tidak mengatakan apa-apa dan lebih memilih untuk tertawa agar tidak terlihat berlebihan. Namun, tindakan ini bisa memperburuk beban mental yang mereka pikul.
Budaya ‘Bercanda’ yang Menjadi Pembenaran untuk Pelecehan
Kebiasaan bercanda tanpa batas sering kali memberikan justifikasi bagi pelecehan verbal. Dalam banyak situasi, ada konformitas sosial yang mendorong orang untuk ikut tertawa dan tidak menunjukkan reaksi berlebihan.
Ini dapat menciptakan suasana di mana banyak orang merasa tertekan untuk tidak membela diri atau menegur ketika batasan dilanggar, sehingga mereka lebih memilih untuk menahan perasaan mereka.
Apa Saja Tanda-Tanda Jika Kamu Terdampak?
Mengetahui tanda-tanda dampak pelecehan verbal di grup chat sangatlah penting. Beberapa perilaku yang bisa menjadi sinyal bahwa seseorang mulai terbebani adalah:
- Merasa cemas atau deg-degan setiap kali notifikasi dari grup muncul.
- Membaca ulang chat secara berulang dengan harapan menemukan makna yang lebih baik.
- Merasa disindir meskipun tidak ada pernyataan yang jelas.
- Mulai menghindari interaksi atau percakapan di dalam grup tersebut.
Penting untuk dipahami bahwa reaksi ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan respons yang valid terhadap situasi yang tidak nyaman.
Risiko Jangka Panjang Jika Pelecehan Ini Diabaikan
Jika pelecehan verbal ini terus dibiarkan, kemungkinan dampak yang timbul dapat menjadi semakin serius. Beberapa risiko yang mungkin dialami adalah munculnya masalah kepercayaan dalam hubungan sosial.
- Pelecehan dapat menyebabkan individu menarik diri dari lingkungan sosial (social withdrawal).
- Kesulitan dalam mempercayai lingkungan kerja dan pertemanan.
- Risiko mengalami depresi ringan hingga sedang akibat tekanan psikologis yang berkepanjangan.
Cara Melindungi Diri dari Pelecehan Verbal di Grup Chat
Untuk menjaga kesehatan mental, langkah-langkah sederhana dapat diambil. Beberapa cara yang efektif untuk melindungi diri adalah:
- Menonaktifkan notifikasi atau mengarsipkan grup chat yang bermasalah.
- Tidak merasa terpaksa untuk merespons semua percakapan yang terjadi.
- Berani berbicara jika situasi memungkinkan dan aman untuk dilakukan.
- Keluar dari grup yang bersifat toxic dan merugikan mental.
- Mencari dukungan dari grup sosial yang lebih positif.
“Menetapkan batasan bukanlah tindakan egois, tetapi sebuah langkah penting untuk melindungi kesehatan mental,” kata Dr. Ray. Kesejahteraan mental merupakan aspek yang harus diperhatikan demi kebahagiaan individu secara keseluruhan.













