jang minimal 800–1000 kata, tanpa menambahkan tag
atau
,
| atau | bisa kamu tambahkan di susunan manapun asal jangan di awal ataupun akhir. Jangan tambahkan atau di awal/akhir, dan hilangkan semua brand dan domain sumber. Gunakan gaya penulisan editorial naratif profesional dan tidak membosankan.
Gunakan susunan berikut ini: susunan pertama (isi paragraf pertama langsung 2 kalimat, minimal 50 kata) tambahkan 2–3 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) susunan kedua (minimal 8 kata)tambahkan 3–5 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) susunan ketiga (minimal 8 kata)tambahkan 3–5 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) susunan keempat (minimal 8 kata)tambahkan 3–5 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) Hilangkan semua yang terkait dengan “liputan6” atau “liputan6.com”. Langsung berikan hasil dalam format HTML bersih tanpa tag , dan jangan tambahkan pembuka atau penutup dari kamu ya:
Liputan6.com, Jakarta – Pulang kampung ke Prancis sambil membawa kotak berisi abu jenazah sang ayah tercinta tak pernah sedikit pun terlintas di benak Gloria Natapradja Hamel. Sosok muda berbakat yang dikenal luas sebagai anggota Paskibraka Nasional 2016 itu harus menjalani perjalanan paling emosional dalam hidupnya. Inilah kisah Gloria saat membawa abu sang ayah ke Prancis, lengkap dengan proses panjang dan berbagai syarat yang harus dipenuhi demi mewujudkan keinginan terakhir ayahnya. Sang ayah, Didier Hamel, mengembuskan napas terakhir pada 1 Februari 2026 setelah berjuang melawan tumor otak ganas berukuran besar di dekat thalamus. Gloria, yang lahir pada 1 Januari 2000, bercerita bahwa ayahnya sempat tidak menunjukkan gejala yang terlalu jelas. Didier hanya beberapa kali mengeluhkan sakit kepala, tetapi keluarga mengira itu hanyalah sinusitis biasa. “Karena memang sudah kambuhan selama hampir 30 tahun,” kata Gloria saat berbincang dengan Kesehatan Liputan6.com pada Senin malam, 18 Mei 2026. Selain itu, sang ayah juga menggunakan pacemaker dan pernah menjalani pemasangan dua ring jantung. “Jadi, setiap kali beliau merasa tidak enak badan, kami pikir itu masih berkaitan dengan kondisi jantung atau aritmia-nya,” tambahnya. Gloria mengatakan ayahnya sempat dua kali memeriksakan diri ke dokter jantung. Namun, dokter merasa ada sesuatu yang tidak beres, meski bukan berasal dari jantung. CT scan pun disarankan karena dicurigai sumber masalah berada di kepala. “Setelah hasil CT scan keluar, Papa menolak konsultasi lebih lanjut ke dokter saraf karena beliau punya pengalaman buruk dengan penanganan saraf punggung beberapa tahun sebelumnya. Jadi, beliau memang sudah tidak percaya lagi,” katanya. Bak petir di siang bolong, pada pertengahan November sang ayah tiba-tiba pingsan. Gloria dan saudara-saudaranya membawa Didier ke dua rumah sakit berbeda, tapi belum juga mendapatkan diagnosis yang jelas.
Setelah pulang ke rumah, kondisi Didier semakin memburuk. Dia mulai tidak bisa berjalan dan perlahan kehilangan ingatan. “Titik yang paling menghancurkan buat saya adalah ketika Papa mulai lupa siapa saya,” ujar Gloria. Saat itu, Gloria yang sedang menjalani pendidikan S2 di ITB langsung pulang dari Bandung karena merasa kondisi ayahnya semakin mengkhawatirkan. “Waktu itu awal Desember saya langsung pulang dari Bandung. Karena sudah sangat putus asa dan merasa tidak ada dokter yang benar-benar bisa memberikan jawaban, saya membawa Papa ke geriatric center,” katanya. Syukurnya, dalam waktu dua hari, tim dokter akhirnya menemukan penyebab kondisi Didier setelah dilakukan pemeriksaan lintas departemen. “Papa memiliki tumor otak yang sangat besar di dekat thalamus, dan tumornya ganas,” kata Gloria.
Contoh paragraf pertama… Contoh paragraf kedua… Contoh subhead pertama…
Related PostsPOPULAR NEWSEDITOR'S PICKCategoriesRecent Posts© 2026 Berita Artikel Kesehatan Terkini Hari Ini rs-medikabsd.co.id. © 2026 Berita Artikel Kesehatan Terkini Hari Ini rs-medikabsd.co.id. |
|---|