Dalam sebuah operasi kepolisian yang dramatis di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, situasi tragis terjadi. Dua anggota polisi kehilangan nyawa mereka dalam penggerebekan terhadap jaringan narkoba, menyoroti risiko pekerjaan para penegak hukum dalam menanggulangi kejahatan narkotika.
Pada tanggal 5 Juli, petugas menemukan jenazah Aiptu Sumaryanto di Sungai Desa Tumbang Kalemei. Proses pencarian yang dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak menunjukkan komitmen tinggi dalam mencari dan mengungkap kasus ini.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, mengonfirmasi penemuan jenazah tersebut. Ia menyatakan bahwa pencarian dilakukan sejak pagi hari, melibatkan personel dari berbagai instansi serta masyarakat sekitar.
Proses Pencarian yang Melibatkan Berbagai Pihak
Eko menjelaskan bahwa pencarian berlangsung mulai pukul 06.00 WIB. Ratusan personel diterjunkan dalam operasi pencarian, termasuk pihak Polda Kalteng, Polairud, Basarnas, serta Kodim setempat.
Tiga unit perahu karet dan delapan kapal kecil digunakan untuk mencari sepanjang sungai dan hutan di sekitarnya. Koordinasi yang baik antar pihak membantu mempercepat proses pencarian meski kondisi di lapangan cukup membahayakan.
Informasi dari komunitas lokal juga turut berperan. Babinsa setempat memberi laporan mengenai keberadaan jenazah yang menjadi titik fokus pencarian ini. Tempat kejadian terletak sekitar empat kilometer dari lokasi awal penggerebekan.
Tragedi dalam Penggerebekan Narkoba
Malang tak dapat ditolak, dalam operasi tersebut, Aiptu Sumaryanto merupakan polisi ketiga yang kehilangan nyawa. Sebelumnya, Aipda Yudhie Perdana Putra juga telah meninggal dalam insiden yang sama.
Menurut keterangan, dua anggota lainnya yang hilang di lapangan juga bernama Bripda Nopandri Ramadhana. Nopandri ditemukan lebih awal dalam keadaan yang sama dengan Sumaryanto, menambah keprihatinan terhadap risiko yang dihadapi oleh anggota kepolisian.
Sejak penggerebekan dimulai pada malam 1 Juli, situasi selalu tegang. Penyelidikan yang lebih mendalam mengarahkan petugas kepada individu berinisial BIO, seorang residivis narkoba yang telah berulang kali terlibat dalam kejahatan serupa.
Ketegangan dan Resiko dalam Penangkapan
Operasi ini melibatkan dua tim, di mana satu tim melakukan penangkapan di rumah target, sementara yang lainnya bersiap untuk mendukung dari lokasi berbeda. Taktik ini dirancang untuk meminimalisir risiko dan memastikan keberhasilan operasi.
Namun, saat proses penangkapan berjalan, situasi menjadi rusuh. Beberapa orang di dalam rumah dan warga setempat melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata tajam. Aksi kekerasan ini memperburuk situasi dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa di pihak kepolisian.
Brigjen Eko menekankan pentingnya sinergi dalam operasi-operasi seperti ini. Kerjasama antara instansi dan masyarakat sangat penting dalam upaya menumpas jaringan narkoba yang kian berkembang pesat di wilayah tersebut.
















