Kepala Perpustakaan Nasional, E Aminudin Aziz, mengemukakan kekecewaannya terhadap kondisi terkini program bagi-bagi buku yang diberikan untuk setiap desa. Program ini terancam terhenti akibat pengurangan anggaran yang signifikan pada tahun 2026, yang menimbulkan kekhawatiran bagi kelangsungan literasi di masyarakat.
Selain desa, penyebaran buku juga dilakukan untuk taman baca, puskesmas, dan taman literasi. Setiap lokasi mendapatkan 1.000 buku yang diharapkan bisa meningkatkan minat baca masyarakat secara luas.
Aminudin menegaskan bahwa penurunan anggaran yang drastis telah berdampak langsung pada kegiatan literasi yang dijalankan. Dalam rapat kerja Laporan Keuangan Pemerintah Pusat, ia menyampaikan bahwa hal ini menjadi penghambat signifikan bagi pekerjaan yang terkait dengan literasi.
Ketidakpastian Anggaran untuk Program Literasi di 2026
Di tahun 2026, Perpustakaan Nasional akan menerima pagu indikatif anggaran sebesar Rp721,6 miliar. Namun, Menteri Keuangan baru-baru ini mengumumkan pemblokiran anggaran sebesar Rp132 miliar, sehingga anggaran efektif yang dapat digunakan hanya sekitar Rp589,5 miliar.
Anggaran yang diblokir ini merupakan bagian dari dana yang sebelumnya digunakan untuk program literasi bagi desa dan perpustakaan daerah. Hal ini menambah kekhawatiran tentang kelangsungan program-program yang sudah ada.
Aminudin juga menekankan bahwa bukan hanya program bagi-bagi buku yang terancam menghentikan operasionalnya, namun juga program renovasi dan pengadaan fasilitas teknologi. Dampaknya bisa sangat luas, mengingat pentingnya akses terhadap fasilitas literasi yang memadai.
Respon Positif dari Masyarakat terhadap Program Buku
Program bagi-bagi buku tersebut, menurut Aminudin, telah berjalan sukses selama dua tahun terakhir. Respons positif dari masyarakat menunjukkan betapa pentingnya inisiatif ini, dengan masyarakat memanfaatkan buku-buku yang didistribusikan secara aktif.
Setiap titik lokasi mendapatkan 1.000 buku, dan ini telah disambut baik oleh warga di berbagai desa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat memerlukan akses yang lebih baik terhadap sumber daya literasi.
Keterlibatan masyarakat dalam penggunaan buku-buku tersebut juga menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencerminkan bahwa inisiatif terkait literasi sungguh relevan dan diperlukan.
Dampak Pengurangan Anggaran Terhadap Program Literasi Lainnya
Pengurangan anggaran tentu saja memberikan dampak tidak hanya pada program bagi-bagi buku. Beberapa program lain yang berkaitan dengan literasi, seperti pengadaan alat dan fasilitas teknologi, juga terancam tidak dapat dilaksanakan.
Aminudin menjelaskan, hal ini menjadikan rencana untuk memperluas gerakan literasi menjadi lebih masif terhalang. Pengurangan anggaran ini memperburuk situasi, sementara program-program literasi dipandang sangat penting untuk perkembangan masyarakat.
Upaya untuk meningkatkan minat baca di berbagai kalangan masyarakat harusnya menjadi prioritas. Namun, dengan kondisi anggaran yang terbatas, langkah-langkah tersebut bisa mengalami gangguan yang berarti.
















