Di tengah suasana berduka, keluarga mendiang dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang dikenal sebagai dokter Icha, harus menghadapi kenyataan pahit. Jenazahnya baru saja dimakamkan, dan di hari yang seharusnya menjadi momen bahagia, adiknya, Tiara Maharani Dwi Pakaenoni, justru meraih gelar dokter pada hari berikutnya.
Berdasarkan informasi yang diterima, Tiara adalah adik kandung mendiang dokter Icha. Pada Selasa pagi, ia diwisuda bersama sebelas rekan sejawat lainnya dari Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana, Kupang, untuk meraih gelar yang didambakan.
Tiara tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat mengenang sosok kakaknya. Menurutnya, ini seharusnya menjadi hari bahagia bagi keluarga mereka, tetapi semua itu sirna setelah kehilangan yang mendalam.
Kisah Duka di Hari Wisuda yang Seharusnya Bahagia
“Lebih besar sedih karena harusnya hari ini menjadi hari bahagia bagi saya, kakak Icha, papa dan mama serta adik, tapi semua berubah,” ungkap Tiara saat ditemui di rumahnya. Rasa sakit yang dirasakannya sangat mendalam karena kini keluarganya hanya tersisa empat orang.
Dalam perbincangan yang penuh emosi, Tiara mengingat betapa pentingnya peran mendiang dokter Icha dalam hidupnya. Kakaknya telah menjadi motivator terbesarnya selama menjalani pendidikan di fakultas kedokteran.
“Dokter Icha selalu memberikan motivasi dan dukungan. Saya berharap bisa meneruskan tongkat estafet dari kakak saya,” lanjut Tiara sambil menahan air mata.
Janji yang Kini Tak Terwujud dan Kenangan yang Menyakitkan
Sebelum kejadian tragis yang menimpa dokter Icha, Tiara sudah memberi tahu kakaknya bahwa ia akan diwisuda pada 30 Juni 2026. Dalam momen itu, dokter Icha telah berjanji untuk memberikan buket bunga sebagai tanda kebanggaan.
Akan tetapi, kini Tiara harus memberikan bunga kepada kakaknya yang telah tiada. Dia mengenang kebiasaan kakaknya dalam memberi bunga saat acara penting, yang kini hanya tinggal kenangan pahit.
“Ini sangat menyakitkan, karena hari ini seharusnya menjadi hari bahagia kita, tapi semuanya berubah,” ujarnya dengan suara bergetar, mengenang bagaimana semua rencana itu musnah begitu saja.
Trauma dan Harapan di Tengah Kehilangan
Peristiwa intimidasi yang dialami dokter Icha menjelang akhir hidupnya menciptakan luka mendalam bagi Tiara. Kejadian tersebut membuatnya merasa trauma, namun dia juga bertekad untuk belajar dari keteguhan kakaknya dalam menjalani profesi sebagai dokter.
“Saya ingin menjalankan tugas dengan kasih dan sesuai dengan standar operasional prosedur,” tambahnya dengan harapan. Tiara merasa bahwa tanggung jawab besar kini ada di pundaknya untuk meneruskan apa yang telah ditunjukkan oleh mendiang kakaknya.
Apa yang terjadi pada dokter Icha menjadi pelajaran berharga bagi Tiara dan banyak orang lainnya. Kasus intimidasi yang berujung pada tragedi ini juga telah menjadi perhatian luas dari masyarakat.
Investigasi dan Tindak Lanjut yang Diharapkan
Sebelumnya, dokter Icha ditemukan tewas di rumahnya setelah diduga mengalami depresi berat. Intimidasi dari beberapa anggota DPRD setempat saat menangani kasus gigitan ular menjadi salah satu penyebab yang memicu kondisi psikologisnya menurun.
Identitas para anggota DPRD yang terlibat dalam intimidasi tersebut membuat situasi semakin rumit. Hal ini menciptakan seruan di masyarakat untuk menuntut keadilan dan penyelidikan yang transparan.
Setelah mendiang dikuburkan, berita duka ini mengundang perhatian ribuan orang yang memberikan penghormatan terakhir. Kesedihan mendalam terasa di kalangan rekan-rekan sejawat dan masyarakat yang mengenal dokter Icha.
















