Ketua Pengurus Pusat IDAI, dokter Piprim Basarah Yanuarso, SpA Subsp.Kardio(K) memberikan pernyataan terkait insiden yang melibatkan seorang anak perempuan berusia 1,5 tahun. Anak tersebut mengalami hipotermia setelah ikut mendaki Gunung Ungaran di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang terjadi pada Sabtu, 11 April 2026.
Kondisi anak tersebut semakin memburuk ketika cuaca berubah menjadi ekstrem. Hujan yang disertai dengan suhu dingin membuat suhu tubuhnya turun, namun beruntung ia berhasil diselamatkan oleh tim SAR yang berada di lokasi tersebut.
Setelah insiden ini viral di media sosial, Piprim mengingatkan orang tua untuk lebih berhati-hati saat mengajak anak-anak beraktivitas di alam terbuka. Ia menegaskan bahwa membawa anak di bawah tiga tahun untuk mendaki gunung sebaiknya dihindari.
“Keberadaan batita di alam terbuka dengan kondisi cuaca yang tidak menentu sangatlah berisiko,” ujarnya saat memberikan keterangan di Jakarta Pusat pada Senin, 13 April 2026.
Piprim menjelaskan bahwa anak-anak memiliki karakteristik berbeda dibandingkan orang dewasa, terutama dalam hal penyesuaian terhadap suhu dan kehilangan cairan. “Sangat penting untuk memahami batasan fisik anak ketika melakukan aktivitas luar ruangan,” tambahnya.
Pentingnya Memahami Risiko Kesehatan Anak di Alam Terbuka
Ketika orang tua mengajak anak-anak ke luar ruangan, risiko kesehatan sering kali tidak diperhatikan dengan baik. Cuaca ekstrem dapat menjadi ancaman serius, terutama bagi anak di bawah tiga tahun yang rentan terhadap hipotermia.
Dokter Yogi Prawira, yang juga merupakan ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, menegaskan pentingnya pengawasan saat anak-anak berada di luar ruangan. “Mereka lebih mudah kehilangan panas tubuh dan cairan, sehingga harus lebih diperhatikan,” ujarnya.
Yogi menambahkan bahwa frekuensi bernapas anak-anak yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa berkontribusi terhadap kehilangan cairan. “Saat mereka bernapas, mereka juga kehilangan elemen penting yang harus dijaga untuk kesehatan mereka,” jelasnya.
Pendidikan Orang Tua dalam Menghadapi Aktivitas Outdoor
Orang tua harus diberikan pemahaman yang mendalam tentang batasan anak saat beraktivitas di luar. Hal ini mencakup pemilihan lokasi, waktu, dan kondisi yang mendukung keselamatan anak-anak.
Mengajak anak-anak ke alam terbuka itu penting, tetapi harus diimbangi dengan edukasi tentang risiko yang mungkin terjadi. “Aktivitas di luar harus direncanakan dengan cermat, termasuk memantau pantauan cuaca,” tambah Yogi.
Selain itu, perlunya persiapan yang matang, seperti membawa peralatan yang sesuai dan memastikan anak-anak mengenakan pakaian yang layak. “Kesiapan fisik dan mental juga penting agar kegiatan berjalan lancar,” ujarnya.
Keselamatan Anak dalam Pelaksanaan Aktivitas Rekreasi
Keselamatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas rekreasi. Pengawasan yang ketat membantu mengurangi risiko yang tidak diinginkan, terutama saat cuaca tidak bersahabat.
Piprim menjelaskan bahwa anak-anak sangat mudah terpapar dampak buruk dari cuaca ekstrem, sehingga perhatian ekstra harus diberikan. “Sebelum berangkat, pertimbangkan semua faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan anak,” kata dokter Piprim.
Dalam hal ini, kolaborasi antara orang tua dengan penyedia layanan outdoor juga perlu dibangun. “Komunikasi yang baik mengenai kondisi anak sangat penting untuk memastikan keselamatan,” tambahnya.
















