Kebanyakan orangtua pasti merasa khawatir ketika meninggalkan anak mereka di daycare. Terlebih setelah digemparkan dengan berita mengenai kekerasan dan penelantaran anak, keinginan untuk mengetahui aktivitas anak di daycare meningkat pesat.
Ketika sesi tanya jawab berlangsung, sering kali anak menjawab secara singkat atau bahkan terkesan enggan bercerita. Penting bagi orangtua untuk mengetahui bagaimana cara mendorong anak agar mau berbagi informasi tentang kegiatan sehari-hari mereka di daycare.
Pakar psikologi anak, Jovita Maria Ferliana, mengemukakan bahwa kunci utama untuk membuka komunikasi adalah menciptakan rasa aman bagi anak. Hindari pertanyaan yang terkesan seperti interogasi, karena akan membuat anak merasa tidak nyaman untuk bercerita.
Strategi untuk Membuka Komunikasi dengan Anak di Daycare
Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah dengan menggunakan pertanyaan terbuka. Pertanyaan yang bersifat tertutup sering kali memberikan jawaban yang terbatas, seperti “iya” atau “tidak”. Dalam hal ini, orangtua bisa bertanya, “Siapa teman bermainmu hari ini?” untuk mengundang anak bercerita lebih lanjut.
Selain bertanya, menciptakan situasi santai dapat mendorong anak untuk berbicara lebih banyak. Misalnya, saat sedang bermain atau menggambar bersama, anak mungkin merasa lebih bebas untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Melalui aktivitas kreatif seperti menggambar atau bermain peran, anak bisa mengekspresikan pengalaman mereka di daycare. Teknik ini sering kali lebih efektif karena anak merasa lebih nyaman berinteraksi dalam suasana bermain yang menyenangkan.
Peran Orangtua dalam Mendengarkan Cerita Anak
Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan langkah penting dalam komunikasi dengan anak. Ketika anak mulai menceritakan pengalaman mereka, berikan respons yang menunjukkan bahwa orangtua benar-benar peduli. Mengatakan, “Oh, jadi kamu merasa sedih ketika mainanmu dipinjam?” dapat membuat anak merasa diperhatikan.
Penting juga bagi orangtua untuk menghindari reaksi berlebihan saat mendengar cerita anak. Jika anak berbagi sesuatu yang mungkin mengejutkan, tetap tenang dan validasi perasaan mereka terlebih dahulu. Hal ini akan membantu anak merasa aman dalam berbicara terbuka.
Misalnya, jika anak menceritakan bahwa temannya tidak membagikan mainan, orangtua bisa mengatakan, “Kamu merasa kecewa ya?” sehingga anak merasa bahwa perasaannya diterima dan dipahami.
Memanfaatkan Waktu Kualitas untuk Berbicara dengan Anak
Waktu berkualitas bersama anak juga sangat berpengaruh terhadap komunikasi. Luangkan waktu setiap hari untuk duduk bersama anak dan tanyakan tentang harinya. Rutinitas ini dapat menjadi kebiasaan yang bagus untuk membangun kepercayaan dan keterbukaan.
Saat iseng dengan anak, cobalah untuk berbagi cerita dari pengalaman orangtua sendiri. Melalui cerita tersebut, anak dapat belajar bagaimana cara membagikan pengalaman dan emosi mereka tanpa merasa tertekan.
Selain itu, berikan anak ruang untuk bercerita dengan cara yang mereka sukai. Apakah itu melalui gambar, permainan, atau hanya sekedar bercerita biasa, penting bagi mereka untuk merasa bebas mengekspresikan diri.
















