Kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) semakin mengkhawatirkan. Hingga akhir pekan lalu, tercatat 430 kejadian Karhutla dengan total luas terdampak mencapai 1.260,92 hektare, mayoritas merupakan lahan milik perusahaan.
Rekapitulasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim menunjukkan bahwa dari total lahan yang terdampak, sekitar 1.197,37 hektare adalah lahan, 32,84 hektare adalah hutan, dan 30,71 hektare adalah kebun.
Berdasarkan informasi dari Pelaksana Harian (Plh) Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim, Sugeng Priyanto, saat ini kebakaran yang terjadi lebih banyak terjadi di area lahan daripada di hutan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini lebih besar terkait dengan aktivitas perusahaan.
Dominasi Kebakaran di Lahan Perusahaan dan Wilayah Terdampak
Sugeng menjelaskan bahwa area yang paling terdampak kebakaran adalah di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar), yang mencatat luas lahan terbakar hingga mencapai 366,70 hektare. Kebakaran ini sebagian besar terjadi di lahan perkebunan dan lahan warga.
Sementara itu, data yang dihasilkan oleh BPBD sering kali menunjukkan perbedaan dibandingkan dengan informasi dari Dinas Kehutanan. Ini menjadi perhatian, mengingat pentingnya akurasi data dalam penanganan kebakaran hutan.
Dalam hal ini, Sugeng menekankan bahwa data yang lebih relevan tentang kebakaran di kawasan hutan lebih mengacu pada laporan dari Dinas Kehutanan. Oleh karena itu, kerjasama antara dua lembaga ini menjadi sangat diperlukan.
Kondisi Terkini dan Kebijakan Penanganan Karhutla
Dari sepuluh kabupaten/kota yang ada di Kaltim, Kukar menjadi wilayah dengan jumlah kejadian kebakaran terbanyak, yaitu 47 kejadian dengan total luas mencapai 369,88 hektare. Diikuti oleh Kutai Barat yang mengalami 71 kejadian, dan Paser yang mengeksplorasi 105 kejadian dengan luas terbakar 268,68 hektare.
Sugeng juga menyatakan bahwa data mengenai kebakaran hutan bersifat dinamis dan dapat berubah kapan saja. Oleh karena itu, BPBD berusaha untuk tetap menggunakan data yang konsisten sebagai referensi.
Seiring dengan meningkatnya jumlah kejadian Karhutla, pemerintah daerah tengah bersiap untuk meningkatkan status penanganan bencana. Saat ini, Kaltim berstatus siaga bencana.
Persiapan Meningkatkan Status Menjadi Siaga Darurat
Sugeng menyatakan bahwa langkah-langkah sedang diambil untuk meningkatkan status tersebut menjadi siaga darurat bencana. Persiapan ini termasuk pelaksanaan surat keputusan untuk memfasilitasi langkah lebih lanjut dalam penanganan kebakaran.
Beberapa daerah di Kaltim juga sudah berada di status siaga darurat, termasuk Kabupaten Paser yang sedang bersiap untuk beralih ke status tanggap darurat. Peningkatan ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah kebakaran yang semakin kompleks.
Per akhir pekan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa total luas kebakaran hutan di Indonesia telah mencapai 72.798 hektare, dengan Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan area kebakaran terbesar.
Koordinasi Antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam Penanganan Bencana
Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa Presiden sedang memimpin rapat untuk mengevaluasi penanganan Karhutla dan juga pascagempa di Nusa Tenggara Timur. Rapat dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi, termasuk Panglima TNI dan sejumlah kepala staf angkatan.
Pemerintah pusat telah menginstruksikan berbagai langkah untuk mendukung daerah-daerah yang terdampak, termasuk pengiriman pesawat water bombing dan mobilisasi personel tambahan untuk membantu penanggulangan kebakaran.
Salah satu langkah yang diambil adalah penambahan 17 pesawat water bombing yang akan dikerahkan ke Kalimantan, bersama dengan 1.500 personel tambahan yang akan mendukung upaya pemadaman. Ini adalah respons langsung terhadap meningkatnya frekuensi kebakaran.














