Polrestabes Surabaya mengumumkan telah menangkap sejumlah massa dalam aksi demonstrasi yang dikenal dengan nama #IndonesiaSekarat. Peristiwa tersebut berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada sore hingga malam hari, dan menarik perhatian banyak pihak terhadap situasi yang sedang terjadi.
Kepala Polrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, mengungkapkan bahwa jumlah orang yang ditangkap masih dalam proses penghitungan. Penangkapan tersebut dilakukan di tengah aksi demonstrasi, yang kemudian berujung pada perusakan dan pelemparan oleh sekelompok orang.
“Kami masih menghitung jumlahnya, tapi sementara ini mungkin ada belasan orang,” tutur Luthfie kepada para wartawan. Hal ini menandakan bahwa situasi di lokasi aksi cukup tegang dan memerlukan tindakan tegas dari pihak kepolisian.
Aksi Demonstrasi dan Penangkapan Massa di Surabaya
Ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dan buruh, menggelar demonstrasi untuk menyuarakan berbagai tuntutan. Masyarakat menuntut pemerintah untuk mengatasi berbagai krisis yang mereka rasakan saat ini, dan Aksi ini diorganisir oleh Front Anti Kapitalisme.
Dalam demonstrasi tersebut, massa melakukan longmarch dari Monumen Kapal Selam menuju Gedung Negara Grahadi. Sesampainya di lokasi, mereka membentangkan spanduk berukuran besar di berbagai tempat untuk menyampaikan pesan mereka kepada publik.
Namun, suasana berubah ketika sekelompok orang mulai melakukan tindakan perusakan. Hal ini membuat pihak kepolisian merasa perlu untuk mengambil tindakan, berusaha mencegah situasi menjadi semakin parah.
Pernyataan Pihak KontraS Terkait Penangkapan
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS Surabaya melaporkan bahwa hampir 20 orang ditangkap dalam aksi tersebut. Dari total yang ditangkap, baru empat orang yang identitasnya terdata, termasuk dua mahasiswa dan seorang perempuan.
Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir, menyatakan bahwa mereka masih mencari tahu alasan di balik penangkapan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa hak-hak para demonstran tetap terlindungi, serta memberikan pendampingan hukum jika diperlukan.
Fatkhul mengatakan, “Kami masih memantau situasi di lapangan untuk mendapatkan laporan lebih lanjut mengenai kondisi para demonstran yang ditangkap.” Penyelidikan dan pendataan menjadi fokus utama mereka saat ini.
Peran Pihak Kepolisian dalam Menangani Aksi Demonstrasi
Kepolisian mengerahkan 320 personel untuk mengamankan jalannya unjuk rasa. Kombes Luthfie mengklaim bahwa pihaknya telah memberikan ruang bagi masa untuk menyampaikan aspirasinya tanpa intervensi. Namun, situasi mulai memanas saat malam menjelang.
Polisi mengambil langkah tegas untuk memukul mundur massa yang melakukan perusakan. Kombes Luthfie menjelaskan bahwa mereka mencoba untuk mencegah bahaya yang dapat mengancam masyarakat dan para demonstran sendiri.
Dalam proses pembubaran, meskipun sempat ada ketegangan, Luthfie menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa atau luka yang signifikan. Pihak kepolisian mengklaim tidak menggunakan alat berat seperti water cannon untuk membubarkan massa.
Tuntutan dari Aksi #IndonesiaSekarat
Dalam aksi tersebut, para demonstran mengeluarkan 11 tuntutan yang menunjuk langsung pada kebijakan pemerintah. Beberapa tuntutan tersebut mencakup penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, serta menciptakan lapangan kerja yang layak.
Selain itu, mereka juga menuntut penghentian program yang dianggap tidak berpihak pada masyarakat, serta pencabutan undang-undang yang dianggap merugikan. Tuntutan ini menunjukkan bahwa banyak elemen masyarakat merasa diabaikan oleh pemerintah dalam beberapa waktu terakhir.
Masyarakat ingin agar suara mereka didengar dan meminta pemerintah untuk berkomitmen dalam menciptakan perubahan yang nyata. Dengan aksi ini, mereka berharap pemerintah akan lebih responsif terhadap kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh rakyat.
















