Proses identifikasi korban kecelakaan kapal seringkali menjadi tantangan yang berat bagi tim penanganan bencana. Kasus tenggelamnya KM Virgo di perairan Masalembo menjadi salah satu contoh nyata dari kompleksitas ini, di mana berbagai faktor mempengaruhi proses yang harus dilakukan dengan hati-hati.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) mengalami kendala serius dalam mengidentifikasi jenazah korban. Terlebih, kondisi jenazah yang memburuk seiring waktu membuat tim harus bekerja ekstra untuk memastikan setiap identifikasi dilakukan dengan tepat.
Menurut Kabid Dokkes Polda Kalsel, Kombes dr. Much Sofwan, situasi yang dihadapi saat ini memang cukup sulit. Pastinya, faktor pembusukan jenazah sangat mempengaruhi proses ini, dan kesulitan ini bertambah seiring dengan berlalunya waktu.
Proses Identifikasi dan Penyebab Kendala yang Dihadapi DVI
Dalam situasi ini, kendala terbesar muncul saat jenazah ditemukan setelah beberapa hari tenggelam. Kombes Sofwan menjelaskan, perubahan fisik seperti wajah yang sulit dikenali menjadi salah satu masalah utama.
Wajah yang sudah mulai membusuk menyulitkan petugas untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Hal ini membuat sidik jari juga sulit dikenali, sehingga mengharuskan mereka untuk mencari metode lain dalam proses identifikasi.
Kendala lain termasuk kemungkinan hilangnya bagian tubuh yang dapat membantu dalam identifikasi. Dengan demikian, proses menjadi semakin rumit ketika mereka tidak dapat menemukan data yang cukup untuk mencocokkan identitas korban.
Ketidakpastian dan Pentingnya Teknologi Dalam Identifikasi
Kabid DVI Pusdokkes Polri, Kombes dr. Wahyu Hidayati, mencatat bahwa identifikasi korban menjadi lebih lambat seiring berjalannya waktu. Pada awalnya, identifikasi dapat dilakukan dengan cepat menggunakan sidik jari, namun setelah beberapa hari, metode ini sudah tidak bisa diandalkan.
Wahyu menyebutkan bahwa saat ini tim harus mengandalkan ciri fisik lainnya seperti gigi atau pakaian yang masih tersisa. Selain itu, situasi menjadi lebih rumit ketika banyak jenazah yang ditemukan tanpa identitas yang jelas.
Penggunaan tes DNA juga menjadi opsi yang dipilih tim dalam usaha untuk mengenali identitas jenazah. Namun, karena proses ini memakan waktu, identifikasi pun menjadi lebih lambat dan memerlukan kesabaran dari pihak keluarga.
Pentingnya Kesabaran dalam Proses Identifikasi Korban
Sebagai bagian dari proses, Wahyu menekankan bahwa tes DNA membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Ini menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika jenazah yang harus diperiksa datang secara periodik.
Setiap pengiriman sampel DNA juga dilakukan secara berurutan, dan proses pemeriksaan memerlukan waktu minimal lima hari. Oleh karena itu, semua pihak diminta untuk bersabar dalam menunggu hasil dari proses identifikasi yang rumit ini.
Tim DVI terus berupaya untuk melakukan pekerjaan ini secepat mungkin, bahkan pada akhir pekan tim tetap bekerja untuk menyelesaikan identifikasi. Ketersediaan sumber daya dan dukungan juga menjadi hal yang krusial dalam upaya tersebut.
Hingga saat ini, total jenazah yang berhasil diidentifikasi mencapai 41 orang dari total 70 jenazah yang diterima. Proses ini menunjukkan betapa kompleksnya upaya identifikasi di tengah berbagai kendala yang ada.
Sementara Basarnas melaporkan bahwa total korban yang ditemukan mencapai 179 orang, dengan rincian 108 orang selamat dan 71 orang meninggal. Namun, masih ada 64 orang yang dalam pencarian dari total manifest 243 orang yang terdaftar.
Situasi ini memperlihatkan betapa krusialnya solidaritas dan kerja sama antara berbagai instansi dalam menghadapi bencana. Identifikasi korban adalah langkah pertama dalam menghormati mereka yang telah hilang dan memberikan kejelasan kepada keluarga yang menunggu dengan penuh harapan.
















