Di bawah terik langit Makkah, Jumariah berulang kali mengusap wajahnya dengan ujung kerudung hitam yang ia kenakan. Jantung perempuan lanjut usia itu berdebar kencang saat kakinya melangkah masuk pelataran Masjidil Haram, momen yang tampaknya ditunggu selama bertahun-tahun.
Air mata Jumariah tumpah berlinang ketika bangunan kubus terbungkus kain kiswah hitam megah tegak berdiri persis di depan matanya. Momen magis ini adalah puncak dari harapan dan doanya yang tersimpan dalam lubuk hati selama puluhan tahun.
Setiap langkah menuju tempat sakral ini mengingatkan dirinya akan perjalanan panjang yang telah dilaluinya di tengah kesendirian. Sebuah mimpi yang ia rawat dalam kesunyian sejak ditinggal oleh suami tercinta, membuatnya bertekad untuk menjalani ibadah haji, sebuah langkah mendekatkan diri kepada Tuhan.
Perjuangan Hidup Seorang Jemaah Haji Lanjut Usia
Jumariah adalah jemaah haji lansia yang berasal dari Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Usianya berkisar di angka 70-an tahun, meskipun dia sendiri tidak mampu merinci secara pasti berapa angkanya.
Di kampung halaman, ia menjalani kehidupan sebatang kara, dengan rutinitas sederhana yang dimulai di pagi hari. Selesai salat subuh, ia memberi makan ayam peliharaannya, membersihkan rumah panggung, dan memasak sarapan untuk diri sendiri.
Pukul 9 pagi adalah waktu di mana ia mulai menguji fisiknya, merawat kebun ubi tetangganya dan melangkah menuju sawah seluas 15 are untuk merawat padi. Baginya, setiap aktivitas itu bukan sekadar kewajiban tetapi juga cara untuk tetap terhubung dengan kehidupannya.
“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri,” ucapnya sambil tersenyum, mencerminkan kebanggaan dalam kesederhanaannya. Perjuangannya ini menjadi bentuk syukur atas segala karunia yang diberikan Tuhan.
Di balik semua kesendirian tersebut, Jumariah merasa tidak pernah benar-benar sendiri. Iman yang kuat dan keyakinan pada Tuhan adalah pendukungnya dalam melewati setiap hari. Kesadaran ini menjadi motivasi besar untuk mendaftar haji dan merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Cara Jumariah Menabung untuk Ibadah Haji
Meski tidak bisa membaca atau menulis, Jumariah tidak membiarkan ketidakberdayaannya menghalangi mimpinya. Selama 20 tahun, dia menyimpan uang hasil jerih payahnya ke dalam ember yang tersembunyi di rumah.
Saat mendapatkan uang, ia selalu menyisihkan sebagian untuk tabungannya. “Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” ungkapnya dengan tulus, menunjukkan dedikasi dan kerendahan hati.
Pada tahun 2011, setelah mengumpulkan hingga Rp25 juta, ia mendaftar untuk berangkat haji. Dhik, keponakannya, membantunya dalam proses yang sangat besar ini. Perjuangan Jumariah tidak berhenti di sana, dia terus berusaha keras untuk mengumpulkan sisa biaya.
Semangatnya semakin membara saat namanya terdaftar sebagai jemaah haji pada musim haji 2026. Tak peduli dengan jarak 15 kilometer menuju lokasi manasik haji, Jumariah menghadiri lebih dari 80 sesi manasik tanpa sekalipun sadar akan lelah.
Sekarang, dengan penuh harapan, ia bersiap melangkah menuju Padang Arafah, tempat di mana doanya akan terhubung langsung dengan Tuhan. Perjalanan spiritual ini adalah penutup dari harapannya yang terkunci selama ini.
Kisah Inspiratif yang Dikenal Secara Internasional
Kisah perjuangan Jumariah menjadi fenomena perhatian, tak hanya di kalangan masyarakat lokal tetapi juga di jembrana internasional. Perjalanan spiritualnya telah diabadikan dalam sebuah dokumenter, yang menarik perhatian banyak pihak.
Keberanian dan ketekunannya menarik perhatian Kantor Kementerian Haji dan Umrah di Kabupaten Maros. Mereka segera memperkenalkan cerita luar biasa Jumariah kepada pihak Kementerian Haji Arab Saudi untuk dokumentasi lebih jauh.
“Dia hidup sendiri, di daerah terpencil, tetapi sangat inspiratif,” ungkap Sitti Hawaisyah, ketua kloter UPG-14, menyoroti semangat juang Jumariah.
Tim dokumenter yang merekam kehidupannya hanya memerlukan waktu empat jam, namun karya tersebut telah bertransformasi menjadi promosi internasional untuk menyambut musim haji 2026.
Kisah Jumariah kini menjadi simbol, menunjukkan bahwa setiap usaha dan keteguhan hati bisa mengantarkan pada pencapaian yang dicita-citakan. Dia menjadi ikon yang menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah pada impian mereka, terutama dalam menjalani ibadah haji.















