Pangdam XXIV/Mandala Trikora Mayjen Frits Wilem Rizard Pelamonia memberikan penjelasan tegas terkait dugaan penculikan Yasinta Moiwend, atau yang akrab disapa Mama Sinta. Pernyataan ini mencuat di tengah maraknya isu yang beredar di masyarakat, di mana Frits memastikan bahwa TNI tidak terlibat dalam skenario tersebut.
Frits dengan yakin menyatakan bahwa informasi yang beredar tidak sesuai dengan kenyataan. Ia juga memastikan bahwa keberangkatan Mama Sinta ke Jakarta tidak terjadi dalam kondisi paksaan, melainkan atas kemauannya sendiri.
“Saya jamin itu bukan perbuatan TNI. Tidak ada penculikan seperti yang ramai diberitakan,” ujar Frits dalam keterangannya, menangkis berbagai spekulasi liar yang mencuat.
Menanggapi Isu Penculikan yang Mengguncang Publik
Kabar mengenai hilangnya Mama Sinta juga telah dibantah langsung oleh yang bersangkutan. Dari pengakuan Mama Sinta, disebutkan bahwa tidak ada pemaksaan atau tindakan penculikan terhadapnya.
“Yang mengalami itu Mama Yasinta. Dan pengakuannya jelas, tidak ada penculikan. Ia dalam kondisi aman dan sehat,” kata Frits menegaskan posisi TNI yang tidak terlibat dalam peristiwa ini.
Sebagaimana disampaikan oleh Frits, berbagai spekulasi terkait keterlibatan aparat juga ditolak mentah-mentah. Ia menilai narasi yang berkembang tidak berbasis fakta dan harus segera diluruskan agar publik tidak salah paham.
Upaya Menghentikan Disinformasi di Masyarakat
Frits mengungkapkan keprihatinannya atas berkembangnya isu ini, yang menurutnya bisa disebabkan oleh kurangnya konfirmasi dari pihak-pihak yang berwenang. Hal ini memicu munculnya asumsi yang berpotensi mengganggu keamanan publik.
“Kalau tidak ada yang bertanya langsung atau mengonfirmasi, lalu muncul asumsi seolah-olah TNI terlibat, ini yang harus diluruskan,” tutur dia, sambil mengajak masyarakat untuk mengecek kebenaran informasi sebelum mempercayainya.
Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menyikapi berita, terutama yang belum diverifikasi kebenarannya. Ini untuk mencegah terjadinya disinformasi yang dapat memperkeruh situasi di lapangan.
Status Keamanan Mama Sinta dan Klarifikasi dari Pihak Berwenang
Frits berharap klarifikasi ini dapat mencegah munculnya polemik lebih jauh terkait Mama Sinta di masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas, khususnya di wilayah Papua Selatan, agar konflik sosial tidak semakin meluas.
Sejak 24 Mei, pihak keluarga Mama Sinta awalnya tidak dapat menghubungi dirinya. Namun, pada 29 Mei, Mama Sinta tiba di Polda Metro Jaya untuk menyampaikan laporan yang cukup mengejutkan.
Diketahui bahwa Mama Sinta melaporkan Ketua LBH Papua Merauke berinisial JTW terkait film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.” Penipuan yang diasumsikan terjadi tersebut berkaitan dengan pengambilan data pribadi tanpa izin.
Rasa Kecewa dan Tindakan Hukum yang Diambil oleh Mama Sinta
Melalui penasihat hukumnya, Hamonangan Daulay, Mama Sinta menjelaskan bahwa dirinya merasa sakit hati terhadap pemutaran film tersebut. Ia merasa tidak ada izin yang diminta dari pihak film sebelum menayangkan produknya yang melibatkan dirinya.
“Mereka putar film Pesta Babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali. Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan,” ungkap Mama Sinta, menunjukkan betapa mendalamnya rasa kecewa yang dirasakannya.
“Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati,” ujar Mama Sinta dalam penjelasannya di Polda, menyiratkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap tindakan pihak lain.
Selain JTW, Mama Sinta juga melaporkan Dandhy Dwi Laksono selaku sutradara film dokumenter tersebut, dalam konteks pengambilan data pribadi yang dianggap tidak etis. Ini menunjukkan betapa seriusnya langkah hukum yang diambil untuk melindungi hak-haknya.
Dengan adanya laporan ini, pihak kepolisian berjanji untuk mendalami permasalahan tersebut lebih lanjut. Kasus ini pun menjadi sorotan, menggugah perhatian publik terhadap isu perlindungan data pribadi dan hak-hak individu dalam konteks media dan film.















