Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, secara langsung mengawasi pembangunan tanggul pantai hybrid di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Infrastruktur yang didanai dengan anggaran tahun 2026 sebesar Rp10 miliar ini diharapkan mampu mengatasi masalah banjir rob dan abrasi di wilayah pesisir, serta memberi peluang bagi penduduk untuk mengelola tambak mereka dan menggerakkan ekonomi lokal.
Taj Yasin mengungkapkan pentingnya proyek ini untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Terlebih, selama bertahun-tahun, masyarakat telah mengalami kerugian akibat efek negatif dari rob dan sedimentasi yang merugikan kegiatan ekonomi seperti budidaya perikanan.
Jatuhnya aktivitas ekonomi di kawasan tersebut telah menjadi perhatian utama, yang mana infrastruktur seperti tanggul ini diharapkan bisa membantu memulihkan situasi. Masyarakat lokal mengharapkan agar dengan adanya program ini, mereka bisa lebih aman dalam menjalankan usaha mereka.
Proyek Pembangunan Tanggul Pantai Untuk Masyarakat Pesisir
Pembangunan tanggul pantai ini dirasakan sangat penting oleh para warga, terutama yang tinggal di daerah rawan abrasi. Infrastruktur ini tidak hanya berupa konstruksi beton, tetapi juga dirancang untuk mendukung pertumbuhan mangrove sebagai pelindung alami dari gelombang laut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, mengungkapkan bahwa proyek ini mencakup penanganan sepanjang 930 meter. Terdapat dua bagian utama dalam pembangunan tersebut, yaitu bangunan utama sepanjang 720 meter dan struktur pemecah gelombang sepanjang 210 meter.
Pekerjaan tersebut dibagi dalam dua paket dengan masing-masing paket memiliki rincian yang berbeda, yaitu 362 meter untuk bangunan utama dan 105 meter untuk bagian groin. Diperlukan sebanyak 8.500 buis beton untuk menyelesaikan keseluruhan struktur ini.
Progres Pembangunan dan Harapan Masyarakat Lokal
Per 25 Oktober 2026, progres pembangunan pada Paket I telah mencapai 56,212 persen, sedangkan Paket II 65,822 persen. Masa pelaksanaan proyek ini ditargetkan selama 175 hari, dimulai pada 5 Juni hingga 26 November 2026.
Selain itu, pemerintah provinsi juga melaksanakan program lain untuk melindungi kawasan pesisir, seperti Mageri Segoro. Sepanjang tahun 2025, program ini berhasil menanam sekitar 2,34 juta batang mangrove di lahan seluas 257 hektare di pesisir Jawa Tengah.
Kepala Desa Surodadi, Supriyanto, mengungkapkan rasa syukur atas proyek tanggul pantai yang sedang berlangsung. Ia optimis bahwa proyek ini akan membantu masyarakat menghadapi masalah abrasi yang selama ini mengganggu aktivitas sehari-hari mereka.
Menyongsong Masa Depan yang Lebih Aman untuk Warga
Keberadaan tanggul pantai ini mulai memberikan manfaat nyata bagi warga. Supriyanto mencatat bahwa sebelum infrastruktur ini ada, banjir sering mengganggu kawasan permukiman penduduk.
Dengan adanya struktur pelindung ini, masyarakat memiliki harapan baru untuk kehidupan yang lebih aman. Selain itu, Supriyanto juga menyatakan bahwa manfaat dari program ini akan semakin meluas jika pembangunan dapat diteruskan hingga menjangkau daerah yang lebih luas.
“Diharapkan dengan adanya kegiatan hybrid seawall ini, masyarakat bisa lebih aman dari abrasi,” tambahnya. Ia menegaskan pentingnya penyambungan perlindungan pantai untuk memastikan manfaat ini dapat dirasakan oleh masyarakat lebih luas.
















