jang minimal 800–1000 kata, tanpa menambahkan tag
atau
,
| atau | bisa kamu tambahkan di susunan manapun asal jangan di awal ataupun akhir. Jangan tambahkan atau di awal/akhir, dan hilangkan semua brand dan domain sumber. Gunakan gaya penulisan editorial naratif profesional dan tidak membosankan.
Gunakan susunan berikut ini: susunan pertama (isi paragraf pertama langsung 2 kalimat, minimal 50 kata) tambahkan 2–3 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) susunan kedua (minimal 8 kata)tambahkan 3–5 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) susunan ketiga (minimal 8 kata)tambahkan 3–5 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) susunan keempat (minimal 8 kata)tambahkan 3–5 (masing-masing 2 kalimat, 50 kata) Hilangkan semua yang terkait dengan “liputan6” atau “liputan6.com”. Langsung berikan hasil dalam format HTML bersih tanpa tag , dan jangan tambahkan pembuka atau penutup dari kamu ya:
Liputan6.com, Jakarta – Guru Besar Kedokteran sejak 2008, Prof. Tjandra Yoga Aditama, turut menyoroti kasus viral terkait komentar nirempati nakes terhadap unggahan pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan, di Threads. Peristiwa ini semakin menyita perhatian publik setelah Yurizal diketahui meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Sambil menunggu konfirmasi mengenai kronologi kejadian yang sebenarnya, Tjandra terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Yurizal. “Semoga mendapat tempat mulia di sisi Tuhan YME,” kata Tjandra kepada Kesehatan Liputan6.com, Rabu (5/8/2026). Di balik polemik yang berkembang, Tjandra menegaskan bahwa seorang dokter tidak cukup hanya memiliki empati. Tenaga medis juga perlu memiliki einfühlung, sebuah konsep yang dinilai lebih mendalam dibandingkan sekadar empati. “Karena pasien memang sedang sakit, yang bukan hanya fisik tapi juga mungkin ada tekanan pemikiran menghadapi situasi yang ada. Bukan hanya empati, dokter juga harus punya einfühlung,” ujarnya. Tjandra menjelaskan bahwa einfühlung berasal dari bahasa Jerman, yaitu ein yang berarti ‘ke dalam’ dan fühlung yang berarti ‘perasaan’ atau ‘perabarasaan’. “Secara harfiah, istilah ini bermakna “merasa ke dalam” (feeling into),” katanya. Menurutnya, konsep tersebut menggambarkan kemampuan seseorang untuk menyelami, meresapi, dan ikut merasakan isi jiwa serta sudut pandang orang lain. Dalam praktik kedokteran, kemampuan ini menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antara dokter dan pasien. “Jadi, dokter bukan hanya memeriksa dan mengobati pasien tapi juga merabarasakan apa yang dialami dan dikeluhkan pasiennya, serta memberikan empati sesuai keadaan yang dialami pasiennya,” ujar Tjandra. Dia menilai akan sangat memprihatinkan apabila ada dokter yang tidak berempati terhadap kondisi pasien maupun tidak memiliki einfühlung terhadap apa yang sedang dirasakan pasien. “Harus diingat bahwa pasien bukan hanya mengeluhkan keadaan sakitnya tapi juga berbagai keadaan yang terkait dengan keadaan sakitnya, dan ini harus dipahami serta diberi empati memadai,” katanya. Contoh paragraf pertama… Contoh paragraf kedua… Contoh subhead pertama…
Related PostsPOPULAR NEWSEDITOR'S PICKCategories© 2026 Berita Artikel Kesehatan Terkini Hari Ini rs-medikabsd.co.id. © 2026 Berita Artikel Kesehatan Terkini Hari Ini rs-medikabsd.co.id. |
|---|